BERITA TERKINI
53 Ulama dan Tokoh Nasional Desak PBB Beri Sanksi atas Serangan AS–Israel ke Iran, Soroti Krisis Gaza

53 Ulama dan Tokoh Nasional Desak PBB Beri Sanksi atas Serangan AS–Israel ke Iran, Soroti Krisis Gaza

Sebanyak 53 tokoh ulama, zuama, dan cendekiawan Muslim Indonesia menyatakan sikap atas eskalasi konflik di Timur Tengah, menyusul serangan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran yang mereka nilai berpotensi memicu tragedi kemanusiaan baru. Seruan itu disampaikan di tengah belum berakhirnya krisis kemanusiaan di Gaza.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers yang digelar Center for Dialogue and Cooperation among Civilizations dan Global Fulcrum of Wasatiyyat Islam di Hotel Ambhara, Jakarta, Senin (13/4/2026).

Sejumlah tokoh yang hadir antara lain Din Syamsuddin selaku Ketua Poros Dunia Wasatiyyat Islam, Zaitun Rasmin selaku Ketua Umum Wahdah Islamiyah, serta Dr. Syarfi Hutauruk selaku Ketua Umum DPP Tarbiyah Indonesia. Dalam daftar 53 tokoh itu juga tercantum Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden yang menjabat Ketua Umum Dewan Masjid Indonesia.

Dalam pernyataan resminya, para tokoh menilai serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran merupakan pelanggaran serius terhadap kedaulatan negara dan berpotensi memperluas konflik global. Mereka mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan lembaga internasional terkait agar segera mengambil langkah konkret.

Langkah yang diminta antara lain menjatuhkan sanksi tegas dan berat kepada pihak-pihak yang dinilai memicu konflik, menghentikan segala bentuk agresi militer terhadap negara berdaulat, serta menjamin agar penjajahan dan pendudukan tidak terulang, khususnya di Palestina. Selain PBB, mereka juga meminta lembaga internasional lain seperti International Criminal Court (ICC) dan forum kerja sama global untuk bertindak cepat dan adil dalam merespons krisis.

Para tokoh menekankan perhatian pada situasi Gaza yang disebut belum terselesaikan, sementara konflik baru muncul dan dinilai berpotensi memperburuk keadaan serta memperluas penderitaan warga sipil. Salah satu poin yang disampaikan dalam seruan itu menyebut, “Dunia tidak boleh diam. Ketidakadilan yang dibiarkan akan melahirkan konflik yang lebih besar.”

Di tengah memanasnya situasi geopolitik, mereka juga menyerukan persatuan umat Islam di berbagai negara. Menurut mereka, perbedaan mazhab seperti Sunni dan Syiah maupun latar belakang etnis seperti Arab dan Persia tidak semestinya menjadi sumber perpecahan. Mereka mengingatkan pentingnya kembali pada nilai persaudaraan sebagai satu umat yang memiliki satu kitab suci Al-Qur’an, satu kiblat, dan satu tujuan untuk mendorong perdamaian serta keadilan global.

Konferensi pers tersebut juga memuat pesan tentang perlunya membangun tata dunia baru yang dinilai lebih adil, damai, sejahtera, dan beradab. Para tokoh menyatakan dominasi kekuatan global yang tidak berimbang telah melahirkan ketidakadilan struktural, sehingga dibutuhkan peran aktif negara-negara dan masyarakat sipil dunia, termasuk umat Islam, untuk mendorong perubahan arah geopolitik global.

Melalui forum itu, mereka berharap suara moral dari Indonesia dapat menjadi bagian dari gerakan global untuk menghentikan konflik, menegakkan keadilan, dan memperkuat perdamaian dunia. Mereka juga menilai momentum ini penting bagi Indonesia untuk kembali memainkan peran strategis dalam menjaga nilai-nilai moderasi dan perdamaian di tingkat internasional.