Sebanyak 19 perusahaan asal Indonesia tercatat dalam daftar Best Companies Asia-Pacific 2026. Daftar tersebut mencakup perusahaan swasta dan badan usaha milik negara (BUMN), termasuk PT Astra International Tbk.
Berdasarkan peringkat yang tercantum, perusahaan Indonesia yang masuk dalam daftar itu adalah PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (154), Bank Central Asia (184), Kalbe (206), Erajaya Swasembada (222), Bank Negara Indonesia (258), XLSmart (278), J&T Express (284), Pertamina Gas Negara (288), Bukalapak (316), Bintraco Dharma (373), PT Bank Syariah Indonesia Tbk (374), Garuda Indonesia (397), Alfamart (403), Bakrie & Brothers (424), Bumitama Agri (443), Dharma Satya Nusantara (467), Indosat (469), Gajah Tunggal (480), dan PT Astra International Tbk (485).
Secara regional, kinerja perusahaan terbaik di Asia-Pasifik pada 2026 masih didominasi sektor perbankan dan jasa keuangan. Dari data TIME dan Statistica, lima dari 10 perusahaan teratas berasal dari sektor perbankan. DBS Bank Singapura mempertahankan posisi teratas seperti tahun sebelumnya, diikuti Commonwealth Bank Australia. Kedua perusahaan tersebut dilaporkan mencatat profitabilitas serta adopsi kecerdasan buatan (AI) yang luas dalam praktik bisnisnya. Dalam jajaran 10 besar juga terdapat Bank of the Philippine Islands dari Filipina.
Kepala ekonom dan direktur pelaksana DBS Bank, Taimur Baig, menilai sektor keuangan memiliki prospek cerah pada 2026. Ia menyoroti penawaran umum perdana dari Hong Kong dan Singapura yang dinilai menghidupkan kembali pasar modal regional yang lesu, serta reli saham perbankan. Baig menyebut ada harapan pasar modal ekuitas memperoleh dorongan positif, dan memperkirakan meningkatnya kepercayaan pasar dapat membuat perusahaan berani mengambil risiko lebih tinggi, yang pada akhirnya berpotensi menambah bisnis bagi bank.
Selain perbankan, industri otomotif dan asuransi juga disebut mencatat kinerja kuat. Toyota mempertahankan status sebagai produsen mobil terlaris di dunia tahun ini berkat penjualan kendaraan hibrida yang kuat di Amerika Serikat, dan berada di peringkat ketiga dalam daftar. Hyundai berada di peringkat kedelapan, sementara Honda di peringkat ke-12. Sejumlah perusahaan Tiongkok seperti Xiaomi (peringkat ke-23), BYD (ke-43), dan Geely (ke-60) juga masuk, yang dikenal melalui penawaran kendaraan listrik. Xiaomi disebut mencatat kinerja terbaik di Tiongkok pada tahun ini.
Di sektor asuransi, perawatan kesehatan, dan layanan sosial, kinerja juga dinilai baik dan diproyeksikan terus berkembang. Kawasan Asia-Pasifik diperkirakan akan meningkatkan volume premi asuransi jiwa global. Beberapa perusahaan yang tercantum antara lain QBE Insurance Group dari Australia (peringkat ke-7), AIA Group di Hong Kong (peringkat ke-15), dan SBI Life Insurance dari India (peringkat ke-19).
Dari 10 perusahaan teratas, empat berasal dari Australia, seiring ekonomi negara itu yang disebut sedikit pulih pada 2025. Kepala ekonom Asia-Pasifik di Natixis, Alicia García-Herrero, mengatakan Australia memberikan konsistensi dengan keuangan yang kuat dan industri pertambangan sebagai andalan. Ia juga menunjuk kekuatan pada sektor farmasi, teknologi medis, dan barang konsumsi. Woolworths, pengecer barang konsumsi terbesar di Australia, berada di peringkat keenam dalam daftar.
Dalam cakupan yang lebih luas, perusahaan-perusahaan India menempati 179 posisi dalam daftar tersebut. India diperkirakan akan mengungguli Jepang dalam persaingan gelar ekonomi terbesar keempat di dunia. Meski demikian, kedua negara disebut meningkatkan kemitraan ekonomi pada tahun lalu, dengan fokus pada semikonduktor, energi bersih, mineral penting, serta teknologi informasi dan komunikasi.
Tiga perusahaan Jepang yang masuk daftar—Sumitomo Mitsui Financial Group (nomor 4), Mizuho Financial Group (nomor 17), dan MUFG (nomor 52)—juga berekspansi ke layanan keuangan India, dengan bertaruh pada pertumbuhan pesat pasar Asia Selatan. Secara keseluruhan, kalibrasi ulang disebut menjadi kata kunci bisnis tahun ini untuk Asia-Pasifik. Di tengah kebijakan Presiden AS Donald Trump yang dinilai mendorong ketidakpastian global, pelaku di kawasan ini disebut akan mencari solusi melalui kerja sama bilateral dan multilateral di luar Amerika Serikat.

