Yen Jepang (JPY) mencatat depresiasi signifikan dalam beberapa tahun terakhir, memicu kekhawatiran di kalangan pembuat kebijakan, pelaku usaha, dan investor. Mata uang yang selama ini kerap dipandang sebagai aset safe haven itu kehilangan nilai cukup besar terhadap mata uang utama, termasuk dolar AS (USD) dan euro (EUR).
Pelemahan yen tidak berdiri pada satu penyebab. Sejumlah faktor disebut berperan, mulai dari arah kebijakan moneter Jepang, perbedaan suku bunga dengan negara maju lain, tekanan inflasi yang tidak diiringi kenaikan upah, perubahan neraca perdagangan, hingga sentimen investor global.
Kebijakan moneter longgar dan dampaknya
Salah satu pendorong utama pelemahan yen adalah kebijakan moneter Jepang yang sangat longgar. Selama beberapa dekade, Jepang mempertahankan suku bunga mendekati nol bahkan sempat negatif. Bank Jepang (BOJ) dinilai berhati-hati menaikkan suku bunga meski tekanan inflasi meningkat, dengan alasan menjaga dukungan bagi pertumbuhan ekonomi.
Di sisi lain, bank sentral utama seperti Federal Reserve AS dan Bank Sentral Eropa (ECB) mengambil langkah pengetatan lebih agresif untuk meredam inflasi. Perbedaan kebijakan ini memperlebar kesenjangan suku bunga antara Jepang dan negara-negara ekonomi besar lain, sehingga investor cenderung memindahkan dana ke instrumen berimbal hasil lebih tinggi.
Pada Januari 2025, BOJ menaikkan suku bunga kebijakan jangka pendek dari 0,25% menjadi 0,5%—level tertinggi dalam 17 tahun. Namun, tingkat tersebut masih jauh di bawah suku bunga di AS dan Eropa yang telah berada di atas 4%. Federal Reserve, misalnya, mempertahankan suku bunga pada kisaran 4,25%–4,50% pada awal 2025. Kesenjangan ini membuat dolar AS relatif lebih menarik, memicu arus keluar modal dari Jepang dan menambah tekanan pada yen.
Perbedaan suku bunga dan fenomena carry trade
Kesenjangan suku bunga menjadi faktor penting dalam pergerakan nilai tukar karena investor mengejar imbal hasil lebih tinggi. Dalam konteks ini, yen menjadi kurang menarik bagi investor internasional akibat suku bunganya yang rendah secara historis.
Strategi yang dikenal sebagai carry trade turut memperburuk pelemahan yen. Investor meminjam yen dengan biaya rendah lalu menempatkannya pada aset berimbal hasil lebih tinggi di negara lain. Praktik ini meningkatkan pasokan yen di pasar global, yang pada gilirannya menekan nilainya.
Ketika Federal Reserve menaikkan suku bunga, obligasi pemerintah AS menjadi lebih menarik bagi investor yang mengejar imbal hasil stabil. Arus modal yang mengalir ke aset berdenominasi dolar memperkuat USD, sementara yen cenderung melemah.
Defisit perdagangan, impor energi, dan upah yang tertahan
Neraca perdagangan Jepang juga memengaruhi kekuatan yen. Jepang sebelumnya dikenal memiliki surplus perdagangan yang ditopang ekspor—antara lain otomotif, elektronik, dan permesinan. Namun, dinamika perdagangan global belakangan berubah dan mendorong defisit perdagangan yang berkelanjutan, yang ikut menekan yen.
Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya biaya impor energi. Jepang sangat bergantung pada impor minyak dan gas alam. Ketika yen melemah, biaya impor naik, membebani bisnis dan konsumen serta berkontribusi pada pelebaran defisit perdagangan. Sementara itu, keuntungan dari yen yang lebih lemah untuk mendorong ekspor dinilai terbatas karena perlambatan ekonomi global, gangguan rantai pasokan, dan melemahnya permintaan barang Jepang di pasar utama.
Dari sisi domestik, inflasi tercatat melampaui target BOJ sebesar 2% selama 35 bulan berturut-turut, tetapi pertumbuhan upah riil masih stagnan. Pada Desember 2024, inflasi inti konsumen Jepang naik menjadi 3,0%—laju tahunan tercepat dalam 16 bulan. Namun, upah tidak meningkat seiring kenaikan harga, sehingga daya beli turun dan konsumsi domestik tertahan. Kondisi ini membuat inflasi sulit menjadi berkelanjutan, sekaligus menyulitkan BOJ untuk memperketat kebijakan lebih cepat.
Perbandingan suku bunga dengan negara lain
Jepang lama dikenal sebagai negara dengan suku bunga terendah, meski pada awal 2025 posisi itu disebut beralih ke Swiss. Pada Februari 2025, inflasi Swiss berada di 0,3% dan Bank Nasional Swiss menetapkan suku bunga 0,25%, lebih rendah daripada suku bunga Jepang 0,5%. Kendati demikian, yen tetap berada di bawah tekanan karena tantangan ekonomi domestik dan arus keluar modal yang berlanjut, sementara kesenjangan suku bunga dengan AS dan Eropa masih lebar.
Prospek yen pada 2025
Pergerakan USD/JPY menjadi salah satu tolok ukur yang mencerminkan perbedaan kekuatan ekonomi AS dan Jepang. Sejak awal 2021, pasangan ini bergerak dalam tren naik besar, dengan level harga yang disebut berada di sekitar 150,65. Ketidakpastian ekonomi dan perbedaan arah kebijakan antara Federal Reserve dan BOJ membuat prospek yen pada 2025 dinilai belum jelas.
Selain faktor fundamental, ulasan indikator teknikal pada grafik mingguan USD/JPY menunjukkan meningkatnya tekanan bearish pada yen. Disebutkan adanya pola candlestick seperti Evening Star dan Bearish Engulfing, serta sinyal dari MACD yang mendekati ambang nol, RSI yang menurun, dan indikasi arus keluar likuiditas melalui MFI.
Skenario teknikal yang dipaparkan menyebut potensi pembukaan posisi short di bawah level 140,55 dengan target kisaran 127,17 hingga 103,13 apabila tekanan bearish berlanjut. Sebaliknya, jika harga bertahan di atas 140,55, skenario alternatif mengarah pada posisi long dengan target 161,57–183,68 sejalan dengan tren naik yang lebih luas.
Kesimpulan
Pelemahan yen dipengaruhi kombinasi kebijakan moneter BOJ yang longgar, kesenjangan suku bunga dengan AS dan Eropa, dampak carry trade, defisit perdagangan yang terkait biaya impor energi, serta inflasi yang tidak diimbangi pertumbuhan upah. Kenaikan suku bunga BOJ pada awal 2025 memberi sinyal perubahan, namun belum cukup untuk menutup jarak dengan negara-negara ekonomi besar lain.
Ke depan, arah yen akan sangat bergantung pada langkah Jepang dalam menyesuaikan kebijakan moneternya, memperbaiki neraca perdagangan, dan mendorong pertumbuhan upah yang lebih berkelanjutan. Selama faktor-faktor tersebut belum berubah, yen berpotensi tetap berada dalam tekanan.

