BERITA TERKINI
Yahya ibn Hakam Al-Ghazal, Penyair Andalusia yang Menjadi Utusan ke Konstantinopel hingga Negeri Viking

Yahya ibn Hakam Al-Ghazal, Penyair Andalusia yang Menjadi Utusan ke Konstantinopel hingga Negeri Viking

Yahya ibn Hakam Al-Ghazal dikenal dalam sejarah Andalusia sebagai penyair istana yang juga menjalankan peran diplomatik lintas wilayah. Sosok yang namanya diabadikan dalam catatan para sejarawan ini disebut pernah mengemban misi politik dari Andalusia, mulai dari Konstantinopel hingga ke kawasan utara Eropa yang dikaitkan dengan bangsa Viking.

Sejarawan Cordoba, Ibnu Hayyan, menulis bahwa Al-Ghazal pada awalnya enggan menerima tugas sebagai utusan dari amir Andalusia, Abdurrahman II. Sikap menolak itu, menurut catatan tersebut, membuatnya dicap keras kepala bahkan kurang ajar. Meski begitu, Al-Ghazal digambarkan sebagai pribadi cerdas, tampan, dan memiliki satire tajam. Julukannya, “Al-Ghazal” yang berarti “kijang”, merujuk pada pesona dan kelincahannya dalam berbicara.

Pada 834 M, Al-Ghazal akhirnya berangkat ke Konstantinopel untuk menjalin aliansi politik. Di istana, ia menghadapi situasi yang disebut sebagai ujian etika dan martabat ketika bertemu Kaisar Theophilos. Sang kaisar dikisahkan membuat pintu masuk istana sangat rendah sehingga tamu seolah harus berlutut. Al-Ghazal mengakalinya dengan masuk sambil membelakangi pintu, lalu berbalik dan berdiri tegak setelah melewati ambang pintu. Tindakan itu disebut membuat kalangan istana terkesan, termasuk Permaisuri Theodora.

Dalam kisah lain yang juga banyak disebut, Al-Ghazal dikatakan berani memuji kecantikan sang ratu dengan gaya puitis, sebuah tindakan yang dianggap berani dalam norma diplomasi pada masa itu.

Sebelum menjalankan misi besar tersebut, Al-Ghazal disebut pernah terlibat konflik dengan musisi Persia terkenal, Ziryab, yang berujung pada pengasingannya ke Baghdad. Di kota itu, ia dikisahkan bertemu penyair Abu Nawas, perjumpaan yang disebut turut memperkaya kemampuan sastranya.

Sepulangnya ke Andalusia, Al-Ghazal kembali dipercaya untuk tugas diplomatik lain, kali ini menuju wilayah yang dikaitkan dengan bangsa Viking. Penugasan ini disebut terjadi setelah serangan Norsemen ke wilayah selatan Iberia, termasuk Sevilla, yang mendorong Andalusia membuka jalur negosiasi damai. Menurut catatan Ibnu Dihya al-Kalbi, Al-Ghazal dipilih karena kecerdasan, keberanian, dan kepiawaiannya bernegosiasi.

Perjalanan menuju wilayah Viking digambarkan tidak mudah. Rombongan utusan sempat terhambat badai sebelum akhirnya tiba di suatu wilayah yang diyakini berada di kawasan Irlandia. Di sana, Al-Ghazal kembali tampil dengan karakter khasnya: menyampaikan pesan diplomatik sekaligus menjalin interaksi personal dengan penguasa setempat yang dalam sumber Arab disebut sebagai Ratu Nud.

Al-Ghazal disebut memuji sang ratu lewat syair. Ketika ia diejek karena rambutnya memutih, ia dikisahkan membalas dengan puisi yang menegaskan usia sebagai simbol kebijaksanaan, bukan kelemahan.

Meski kisahnya dikenal luas, Al-Ghazal disebut tidak meninggalkan catatan perjalanan yang ditulis langsung olehnya. Informasi tentangnya bergantung pada karya para sejarawan setelahnya, sehingga sebagian sejarawan Barat meragukan akurasi detail cerita tersebut. Namun, sejumlah peneliti modern menilai kisah perjalanan Al-Ghazal ke negeri Viking memiliki dasar historis yang kuat karena dinilai selaras dengan catatan serangan Viking di kawasan Mediterania pada abad ke-9.

Setelah sekitar 20 bulan menjalankan misi, Al-Ghazal kembali ke Cordoba pada 846 M dalam usia lanjut. Terdapat perbedaan pendapat mengenai usia pastinya, namun ia diyakini hidup lebih dari 70 tahun. Dalam salah satu puisinya menjelang wafat, ia merefleksikan perjalanan hidupnya, dari masa muda penuh godaan, masa dewasa yang sarat dosa, hingga usia senja yang dipenuhi penyesalan.