BERITA TERKINI
WTO Peringatkan Risiko Krisis Pupuk Global Usai Selat Hormuz Ditutup

WTO Peringatkan Risiko Krisis Pupuk Global Usai Selat Hormuz Ditutup

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) mengeluarkan peringatan serius terkait ancaman terhadap ketahanan pangan global menyusul terganggunya pasokan pupuk akibat konflik bersenjata di Timur Tengah.

Wakil Direktur Jenderal WTO Jean-Marie Paugam menilai situasi tersebut menciptakan ancaman ganda bagi dunia, yakni potensi kelangkaan pangan dan lonjakan harga yang signifikan. Peringatan itu disampaikan setelah Selat Hormuz ditutup menyusul konflik yang dipicu serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada 28 Februari.

Selat Hormuz selama ini merupakan jalur perairan vital, tidak hanya untuk transit energi seperti minyak dan gas, tetapi juga sebagai rute utama distribusi pupuk dunia. WTO mencatat sekitar sepertiga pasokan pupuk global biasanya melintasi selat tersebut.

Menurut Paugam, gangguan pada jalur ini diperkirakan berdampak langsung terhadap kapasitas produksi pangan dunia. “Pupuk adalah isu utama yang paling mengkhawatirkan saat ini. Jika tidak ada lagi pupuk, dampaknya tidak hanya pada jumlah produksi (pangan), tetapi juga pada harga,” kata Paugam dalam wawancara di Yaounde.

Ia menambahkan, dampak gangguan pasokan pupuk cenderung bersifat akumulatif. “Efeknya akan berlipat ganda pada tahun berikutnya: Hasil panen menyusut dan harga-harga melonjak naik,” ujarnya.

Kawasan Teluk disebut sebagai salah satu produsen utama pupuk karena ketersediaan gas alam yang melimpah, yang menjadi bahan baku penting pupuk buatan. Namun, peperangan dilaporkan telah menghambat produksi dan memaksa sejumlah fasilitas besar menghentikan operasinya.

Kondisi ini dinilai membuat negara-negara eksportir pangan besar berada dalam posisi rentan. Paugam menyebut India, Thailand, dan Brasil sebagai negara yang sangat bergantung pada pasokan urea—pupuk berbasis nitrogen—dari kawasan Teluk.

Di saat yang sama, WTO juga menyoroti risiko yang dihadapi negara-negara pengimpor pangan bersih, yang diperkirakan berada dalam posisi sangat sulit, termasuk sebagian besar wilayah Afrika Barat dan Afrika Utara.