BERITA TERKINI
WTO Peringatkan Konflik Tekan Prospek Perdagangan Global, Harga Energi Jadi Kunci

WTO Peringatkan Konflik Tekan Prospek Perdagangan Global, Harga Energi Jadi Kunci

Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) menilai konflik yang baru meletus telah menambah tekanan pada prospek perdagangan global, terutama setelah lonjakan harga energi memicu kekhawatiran akan risiko ekonomi yang lebih luas. Penilaian itu disampaikan dalam laporan prospek perdagangan global tahunan WTO yang dirilis hampir tiga minggu setelah konflik dimulai.

Direktur Jenderal WTO, Ngozi Okonjo-Iweala, memperingatkan bahwa kenaikan harga energi yang berlangsung lama dapat meningkatkan risiko terhadap perdagangan dunia. Ia menyoroti potensi dampaknya terhadap ketahanan pangan serta meningkatnya tekanan biaya bagi konsumen dan pelaku usaha.

Sejak konflik pecah, ekonom WTO merevisi perkiraan ekonomi tahunan mereka. Di tengah ketidakpastian mengenai besaran dampak dan durasi konflik, WTO menyajikan dua skenario utama yang menggambarkan kemungkinan arah perdagangan global tahun ini.

Dalam skenario pertama, yang mengabaikan fluktuasi harga energi, WTO memproyeksikan pertumbuhan volume perdagangan barang global melambat menjadi 1,9% tahun ini, turun dari 4,6% pada 2025. Skenario tersebut juga mengasumsikan perlambatan tipis pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) global dari 2,9% pada 2025 menjadi 2,8% pada 2026 dan 2027.

WTO menyebut skenario ini akan membuat perdagangan barang “kembali normal” tahun ini meski terjadi konflik, setelah pertumbuhan 2025 lebih kuat dari perkiraan. WTO menilai penguatan pada 2025 terutama didorong oleh lonjakan produk terkait kecerdasan buatan (AI).

Okonjo-Iweala mengatakan prospek tersebut mencerminkan ketahanan perdagangan global yang didukung perdagangan produk teknologi tinggi dan layanan yang disampaikan secara digital, adaptasi rantai pasokan, serta penghindaran pembalasan tarif. Namun, ia menegaskan bahwa prakiraan ini tetap berada di bawah tekanan konflik di Timur Tengah.

Dalam skenario kedua, WTO memperingatkan bahwa jika harga minyak mentah dan gas alam cair bertahan tinggi sepanjang tahun, hal itu dapat menurunkan perkiraan PDB 2026 sebesar 0,3 poin persentase dan memangkas perkiraan perdagangan 2026 sebesar 0,5 poin persentase. Dalam kondisi harga energi tinggi, volume perdagangan barang diperkirakan hanya meningkat 1,4% tahun ini. Perdagangan jasa juga diproyeksikan tumbuh lebih lambat, yakni 4,1%.

Okonjo-Iweala menekankan bahwa anggota WTO dapat membantu mengurangi dampak dan meringankan beban ekonomi masyarakat di berbagai negara dengan mempertahankan kebijakan perdagangan yang dapat diprediksi serta memperkuat ketahanan rantai pasokan.

Di sisi lain, ekonom WTO juga mencatat adanya peluang pertumbuhan perdagangan barang yang lebih kuat dari perkiraan apabila konflik di Timur Tengah tidak berlarut-larut dan perdagangan terkait AI tetap kuat. Dalam kondisi tersebut, pertumbuhan perdagangan barang dapat mencapai 2,4% tahun ini dan 2,7% pada 2027.