Program Pangan Dunia (World Food Programme/WFP) Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memperingatkan konflik yang masih berlangsung di Timur Tengah berpotensi mendorong tingkat kelaparan global ke rekor tertinggi sepanjang masa.
Wakil Direktur Eksekutif WFP Carl Skau mengatakan, bila konflik berlanjut hingga Juni, kenaikan harga dapat mendorong tambahan 45 juta orang ke dalam kelaparan akut. Pernyataan itu disampaikan Skau dalam konferensi pers di Jenewa, Swiss, Selasa (17/3/2026).
Menurut Skau, konflik tersebut memicu efek domino terhadap operasi kemanusiaan global. Ia menyebut rantai pasokan WFP mengalami gangguan paling parah sejak pandemi COVID-19 dan krisis Ukraina.
Seiring eskalasi konflik yang memasuki pekan ketiga, berbagai operasi bantuan menghadapi waktu pengiriman yang lebih lama dan biaya yang lebih tinggi. WFP, yang mengoperasikan ribuan truk setiap hari, juga mencatat kenaikan biaya pengiriman sebesar 18 persen akibat lonjakan harga minyak.
Dampak tekanan biaya dan gangguan pasokan itu, kata Skau, memaksa WFP mengurangi jatah makanan bagi masyarakat yang terancam kelaparan di Sudan. Di Afghanistan, WFP kini hanya mampu membantu satu dari empat anak yang mengalami kekurangan gizi akut, di tengah situasi yang disebut sebagai pusat krisis malanutrisi terburuk di dunia.
Skau juga menyampaikan kekhawatiran terkait pasar pupuk global, menyusul kondisi Selat Hormuz yang disebut “hampir terhentinya” jalur tersebut. Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi seperempat pasokan pupuk dunia.
WFP memperingatkan lonjakan biaya pangan dan bahan bakar secara global dapat membuat jutaan keluarga tidak mampu membeli makanan pokok. Skau menambahkan, negara-negara yang bergantung pada impor diperkirakan akan terdampak paling parah.

