BERITA TERKINI
WEF Davos 2026 di Bawah Bayang Trump: Pemimpin Dunia Menilai Ulang Geopolitik, Pasar, dan Transisi Energi

WEF Davos 2026 di Bawah Bayang Trump: Pemimpin Dunia Menilai Ulang Geopolitik, Pasar, dan Transisi Energi

World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, ditutup dengan satu kesan dominan: Presiden Amerika Serikat Donald Trump menjadi pusat perhatian. Alih-alih menjadi ruang membangun konsensus, pertemuan tahunan itu banyak diwarnai upaya para pemimpin dunia dan eksekutif bisnis membaca ulang risiko global—mulai dari stabilitas geopolitik, arah ekonomi dunia, hingga ketidakpastian pasar.

Gaya kepemimpinan Trump yang kembali dinilai sulit diprediksi membuat peserta Davos pulang dengan lebih banyak pertanyaan ketimbang jawaban. Sejumlah isu yang mengemuka menunjukkan bagaimana kebijakan dan pernyataan Washington memberi dampak luas terhadap hubungan transatlantik, iklim investasi, perkembangan teknologi, serta arah transisi energi.

Eropa dan retaknya kepercayaan transatlantik

Salah satu pelajaran yang paling menonjol datang dari Eropa. Klaim Trump atas Greenland disebut telah melampaui batas terkait kedaulatan wilayah. Perlawanan Eropa, yang disebut turut diperkuat oleh gejolak pasar keuangan, dinilai menjadi salah satu faktor yang membuat Trump akhirnya mundur.

Meski demikian, keretakan sudah terlanjur terjadi. Kepercayaan Eropa terhadap hubungan transatlantik dengan Washington disebut terguncang, mendorong pembicaraan internal di Eropa mengenai kebutuhan bertindak lebih cepat dan lebih mandiri saat krisis berikutnya muncul. “Ada upaya untuk mempercepat pengambilan keputusan di Eropa. Kami mungkin terlalu lambat,” ujar seorang pejabat Uni Eropa, dikutip dari Reuters, Ahad, 24 Januari 2026.

Sejumlah pemimpin dan eksekutif Eropa menggambarkan pendekatan pemerintahan Trump sebagai kasar dan ofensif, meski sebagian mengakui ia mengangkat isu yang mereka nilai sah. Pada saat yang sama, Ukraina sempat tersisih dari sorotan hingga Trump mengumumkan kesepakatan Greenland.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskiy kemudian terbang ke Davos untuk melakukan pembicaraan. Namun, harapan perdamaian disebut masih jauh. Zelenskiy menegaskan persoalan wilayah belum terselesaikan, meskipun pejabat AS, Ukraina, dan Rusia sama-sama berbicara soal “kemajuan”.

Dalam sinyal lain kuatnya pengaruh isu Trump di Davos, utusan Presiden Rusia Vladimir Putin, Kirill Dmitriev, datang ke Davos untuk bertemu pejabat AS. Ini merupakan kunjungan pertama pejabat Rusia sejak invasi Ukraina pada 2022. Ia menggelar pertemuan di USA House tanpa mengikuti forum resmi.

Para pemimpin dunia juga secara terbuka memperdebatkan skenario pascakonflik apabila Trump benar-benar menyerang Iran. Ketidakpastian yang melekat pada keputusan Trump kembali menjadi salah satu ciri utama forum tahun ini.

Dunia usaha mencari stabilitas

Ancaman tarif AS terhadap sekutu Eropa—yang dikaitkan dengan penolakan atas ambisi Greenland—membuka kembali ketegangan dagang. Banyak CEO menilai Eropa tidak lagi bisa sepenuhnya mengandalkan Amerika Serikat.

Menteri Keuangan Kanada François-Philippe Champagne menilai dunia usaha kini kekurangan kepastian. “Kalau Anda bicara dengan para CEO hari ini, apa yang mereka inginkan? Stabilitas, kepastian, dan supremasi hukum. Saya kira itu sedang langka,” katanya.

Situasi tersebut memperkuat argumen kalangan yang mendorong diversifikasi perdagangan menjauh dari AS yang dipandang semakin proteksionis. Di sektor jasa keuangan, ada harapan aktivitas bisnis meningkat pada tahun ini, namun diiringi ketidakpastian kebijakan AS, geopolitik, kecerdasan buatan, dan teknologi finansial.

CEO JPMorgan Jamie Dimon memperingatkan rencana pembatasan suku bunga kartu kredit akan menjadi bencana ekonomi. Di sisi lain, industri kripto mendorong stablecoin dan blockchain sebagai masa depan keuangan, meski sebagian bankir tetap berhati-hati.

Kekhawatiran lain yang membayangi sentimen investor meliputi independensi Federal Reserve AS serta potensi gelembung di sektor AI dan aset lainnya.

AI: optimisme bertemu kecemasan sosial

Industri teknologi hadir kuat di Davos, termasuk kemunculan yang disebut jarang dari Elon Musk dan CEO Nvidia Jensen Huang. Startup AI Anthropic bahkan membuka kantor sementara di jalan utama Davos untuk mendorong penjualan korporasi.

Berbeda dengan skeptisisme pada akhir 2025, sejumlah eksekutif menyatakan kekhawatiran terkait valuasi AI mulai ditinggalkan. Namun, perdebatan bergeser pada dampak sosialnya. Dua pemimpin bisnis mengatakan AI akan menjadi alasan untuk membenarkan pemutusan hubungan kerja (PHK), bukan penyebab utamanya. Sebaliknya, serikat pekerja khawatir AI akan menghancurkan lapangan kerja dan memperlebar ketimpangan, sehingga mendorong tuntutan regulasi dan pelatihan ulang tenaga kerja.

Energi: kebangkitan big oil dan guncangan narasi hijau

Industri minyak dan gas disebut kembali ke Davos dengan rasa percaya diri setelah setahun pemerintahan Trump. Trump memerintahkan penghentian proyek ladang angin dan mendorong perusahaan AS untuk mengebor lebih banyak minyak.

Menteri Energi AS Chris Wright menyatakan produksi minyak global perlu lebih dari dua kali lipat untuk memenuhi permintaan energi, pandangan yang bertentangan dengan analis yang memprediksi puncak permintaan dalam dua dekade. Ia juga menuding Eropa dan California menghamburkan terlalu banyak uang untuk energi hijau. Seorang eksekutif migas mengatakan, “Pemerintahan Trump sedang mengubah narasi secara radikal, dan industri minyak menyukainya.”

Namun, Musk mengambil jarak dari Trump soal energi terbarukan. “Amerika Serikat bisa memproduksi cukup tenaga surya untuk memenuhi seluruh kebutuhan listriknya,” kata Musk. Ia menambahkan bahwa sebagian kecil wilayah seperti Utah, Nevada, atau New Mexico dapat digunakan untuk menghasilkan seluruh listrik yang digunakan AS. Menurut Musk, masalahnya adalah hambatan tarif untuk surya yang sangat tinggi dan membuat ekonomi penyebaran surya menjadi mahal secara artifisial.

Pertahanan: antara lega dan harapan belanja baru

Dunia sempat menarik napas lega ketika Trump menyatakan tidak ada solusi militer atas tuntutannya terhadap Greenland. Namun, sebagian eksekutif justru berharap pada peningkatan belanja pertahanan Eropa dan AS, termasuk proyek konstruksi dan perekrutan.

Trump juga mengklaim adanya senjata sonik rahasia yang digunakan saat penangkapan Nicolas Maduro di Venezuela. “Rusia dan China harus kembali ke meja gambar,” kata Trump. Kremlin menyebut dinas rahasia Rusia tengah menyelidiki klaim tersebut.

WEF Davos 2026 menegaskan gambaran dunia yang memasuki fase ketika kepastian makin langka, sementara arah kepemimpinan global kembali banyak ditentukan oleh politik kekuatan. Di bawah bayang Trump, dinamika pasar, energi, dan geopolitik bergerak dalam irama yang sulit ditebak, tetapi menjadi faktor yang tak bisa diabaikan.