BERITA TERKINI
Webinar FINON Bahas Dasar Keuangan Rumah Sakit untuk Tenaga Kesehatan Non-Keuangan

Webinar FINON Bahas Dasar Keuangan Rumah Sakit untuk Tenaga Kesehatan Non-Keuangan

Aspek keuangan dinilai menjadi salah satu penopang penting dalam operasional rumah sakit, mulai dari efisiensi layanan hingga menjaga kualitas pelayanan kepada pasien. Namun, istilah seperti laporan keuangan, analisis biaya, dan penganggaran kerap masih terasa asing bagi tenaga kesehatan yang tidak memiliki latar belakang keuangan. Untuk menjembatani kebutuhan tersebut, Webinar Finance for Non Finance (FINON) digelar guna membantu tenaga kesehatan memahami konsep dasar keuangan yang berdampak pada kinerja rumah sakit secara keseluruhan.

Webinar dibuka oleh Ni Luh Putu Eka Putri Andayani, SKM., M.Kes. Dalam pengantarnya, ia menggambarkan sistem keuangan sebagai “sistem sirkulasi” yang vital bagi rumah sakit. Sementara itu, laporan keuangan disebut sebagai “tanda vital” yang perlu dipahami setiap pemimpin agar pelayanan klinis tetap bermutu dan berkelanjutan.

Paparan berikutnya disampaikan Dr. Anastasia Susty A., M.Si., Akt., CA., CRP., AMA yang menekankan pentingnya literasi keuangan bagi manajer non-keuangan. Menurutnya, pemahaman keuangan merupakan kompetensi kunci untuk pengelolaan rumah sakit yang efektif, efisien, dan berkelanjutan, karena aktivitas manajerial—mulai dari perencanaan, pengendalian, hingga pengambilan keputusan—tidak terlepas dari informasi keuangan.

Ia menguraikan sejumlah komponen dasar yang perlu dipahami, seperti pendapatan (dari BPJS, asuransi, dan pasien mandiri), biaya (langsung dan tidak langsung), investasi, utang, serta ekuitas. Kemampuan membaca dan menganalisis laporan keuangan juga dinilai penting, baik melalui analisis horizontal (perbandingan antar-tahun) maupun vertikal (rasio dalam satu periode) untuk menilai kesehatan finansial rumah sakit. Sejumlah rasio—likuiditas, profitabilitas, aktivitas, dan struktur modal—disebut sebagai alat diagnostik yang krusial.

Dalam pembahasan product costing, Dr. Anastasia menyoroti pentingnya penghitungan unit cost, bukan hanya untuk memenuhi regulasi penetapan tarif, tetapi juga untuk mengetahui margin setiap layanan. Informasi ini dinilai dapat menjadi dasar strategi perbaikan berkelanjutan dan efisiensi, termasuk penerapan lean hospital. Ia juga menekankan prinsip “different cost for different purpose”, yakni metode penghitungan biaya berbeda sesuai tujuan: penentuan tarif memerlukan full costing, sedangkan keputusan taktis dapat menggunakan variable costing.

Terkait pengambilan keputusan, peserta diajak membedakan analisis untuk keputusan jangka pendek—seperti analisis biaya-volume-laba (BEP) dan biaya relevan untuk opsi make or buy—dengan keputusan jangka panjang atau investasi. Untuk investasi, diperlukan evaluasi melalui capital budgeting dengan metode seperti Payback Period, Net Present Value (NPV), dan Internal Rate of Return (IRR). Di tahap penilaian kinerja, ia menekankan perlunya pendekatan komprehensif seperti Balanced Scorecard yang mencakup perspektif keuangan, pelanggan, proses internal, serta pembelajaran dan inovasi.

Materi implementasi disampaikan dr. Stephani Maria Nainggolan, M.Kes, yang menjelaskan penggunaan informasi keuangan dalam manajemen rumah sakit. Ia menyoroti tantangan operasional di tengah dominasi pembayaran BPJS dengan sistem paket INA-CBGs yang akan bertransisi menjadi Indonesian Diagnosis Related Groups/INA-DRGs, serta persoalan klaim pending yang dapat mengganggu arus kas.

Dalam analoginya, keuangan rumah sakit digambarkan seperti tubuh manusia: arus kas sebagai jantung yang menjaga kelangsungan hidup, laporan laba rugi sebagai otak yang mendiagnosis kesehatan struktural, neraca sebagai rangka penopang jangka panjang, piutang sebagai darah yang tertahan, dan utang sebagai obat yang dapat menolong atau merusak. Ia menekankan peran direktur sebagai interpreter yang menerjemahkan angka menjadi kebijakan, integrator yang menghubungkan keuangan dengan mutu layanan, serta decision maker yang menentukan prioritas di tengah tarik-menarik idealisme pelayanan dan realitas finansial.

Dalam praktiknya, informasi keuangan kunci yang disebut perlu dipantau pimpinan meliputi laporan laba rugi untuk melihat margin per layanan dan kontribusi BPJS dibanding non-BPJS, neraca untuk mengukur kekuatan dan risiko, serta laporan arus kas untuk memastikan kecukupan likuiditas menghadapi keterlambatan klaim. Efisiensi pelayanan ditekankan bukan sebagai pemotongan layanan, melainkan pengurangan variasi yang tidak perlu melalui penegakan clinical pathway, audit penggunaan obat, dan edukasi berkelanjutan kepada tenaga kesehatan.

Dalam konteks investasi, dr. Stephani menegaskan keputusan tidak cukup hanya bertumpu pada proyeksi pendapatan atau arus kas. Pertimbangan perlu mencakup aspek seperti EBITDA margin, Return on Investment (ROI), payback period, serta analisis risiko regulasi. Ia menutup dengan penekanan bahwa rumah sakit yang kuat bukan semata yang terbesar, melainkan yang mampu mengambil keputusan tepat berbasis data, termasuk data keuangan, demi menjaga keberlangsungan layanan.