Investor legendaris Warren Buffett disebut meningkatkan posisi kas dengan melepas sebagian saham dan obligasi yang dimilikinya. Langkah ini dinilai sebagai upaya menyiapkan likuiditas untuk menghadapi potensi gejolak di pasar keuangan global.
Pergerakan tersebut menjadi sorotan investor sekaligus penulis buku keuangan Robert Kiyosaki melalui unggahannya di media sosial X. Kiyosaki menilai Buffett sengaja memperbesar cadangan kas agar memiliki fleksibilitas untuk membeli aset bernilai ketika harga pasar mengalami penurunan tajam.
“Karena ia ‘menjaga amunisinya tetap kering’, artinya ia menyimpan uang tunai agar bisa membeli aset berharga setelah pasar jatuh dan harganya turun,” tulis Kiyosaki.
Menurut Kiyosaki, strategi menyimpan kas dalam jumlah besar kerap digunakan investor besar ketika mereka melihat potensi koreksi harga aset. Dengan likuiditas yang memadai, investor dapat memanfaatkan peluang membeli aset bernilai pada harga yang lebih rendah saat pasar tertekan.
Ia juga menilai langkah tersebut terjadi di tengah meningkatnya tekanan pada sektor keuangan global. Dalam unggahan yang sama, Kiyosaki menyebut sejumlah lembaga keuangan dan bank besar menghadapi tekanan likuiditas.
“Dana kredit swasta panik karena investor menarik uang mereka. Bank-bank besar dan institusi keuangan ternama sedang menghadapi masalah,” tulisnya.
Kiyosaki turut merujuk pandangan analis ekonomi Jim Rickards yang menyatakan Amerika Serikat telah memasuki fase yang disebut sebagai “Depresi Baru”. Ia menilai kondisi itu mencerminkan tekanan yang kian besar terhadap sistem ekonomi global, sehingga sebagian investor memilih menahan kas untuk mengantisipasi ketidakpastian pasar.
Di sisi lain, Kiyosaki menyatakan dirinya mengambil pendekatan berbeda dalam menghadapi potensi gejolak ekonomi. Ia mengaku meningkatkan investasi pada aset berbasis komoditas dan aset digital.
“Pekan lalu saya menggunakan jutaan dolar uang tunai untuk membeli lebih banyak sumur minyak, emas, perak, dan Bitcoin,” tulisnya.
Kiyosaki juga menyinggung faktor geopolitik yang dinilainya dapat memengaruhi pasar energi global. Ia menyebut ketegangan di Selat Hormuz berpotensi mendorong kenaikan harga minyak dunia.
“Saya yakin selama Iran terus menembaki kapal tanker minyak di Selat Hormuz, harga minyak dari sumur minyak saya di Texas akan terus naik,” tulisnya.
Menurut Kiyosaki, dalam periode ketidakpastian ekonomi global, aliran dana investor biasanya berpindah dari satu sektor ke sektor lain yang dianggap lebih aman atau memiliki potensi keuntungan lebih besar.
“Selalu ingat aturan utama saat terjadi penarikan dana dari bank, uang selalu berpindah ke tempat lain,” tulisnya.
Ia menambahkan investor perlu memahami ke mana aliran dana global bergerak ketika tekanan terjadi pada sektor perbankan, bisnis, maupun pasar tenaga kerja. “Tugas Anda adalah mencari tahu ke mana uang yang keluar dari bank, bisnis, dan pekerjaan itu mengalir,” tulisnya.
Meski demikian, Kiyosaki mengakui prediksi yang ia sampaikan tetap memiliki kemungkinan tidak terjadi. “Apakah saya bisa salah? Ya,” tulisnya. Namun ia menyatakan masih memiliki sumber arus kas dari bisnis dan properti yang dimilikinya. “Jika saya salah, saya masih memiliki arus kas dari properti dan bisnis yang saya miliki,” tulisnya.

