Jakarta—Wakil Menteri Hak Asasi Manusia (Wamen HAM) RI Mugiyanto menilai meningkatnya dinamika geopolitik global dalam beberapa waktu terakhir menegaskan keterkaitan erat antara stabilitas dunia, perlindungan hak asasi manusia, dan keberlanjutan aktivitas ekonomi internasional.
Pernyataan itu disampaikan Mugiyanto saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepatuhan HAM bagi Verifikator dan Pelaku Usaha Tahun 2026 yang digelar Direktorat Jenderal Pelayanan dan Kepatuhan HAM Kementerian HAM pada 9–11 Maret 2026 di Aston Kartika Grogol Hotel & Conference Center, Jakarta.
Menurut Mugiyanto, kepatuhan terhadap prinsip HAM kini menjadi bagian penting dari tata kelola ekonomi global. Ia menekankan bahwa penerapan prinsip HAM tidak hanya dipandang sebagai kewajiban moral, tetapi juga fondasi bagi stabilitas ekonomi dan kepercayaan internasional terhadap aktivitas bisnis suatu negara.
“Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, kepatuhan terhadap prinsip HAM bukan hanya kewajiban moral, tetapi juga menjadi bagian dari fondasi stabilitas ekonomi dan kepercayaan dunia internasional terhadap aktivitas bisnis suatu negara,” ujar Mugiyanto, dikutip Jumat (13/3/2026).
Kegiatan bimtek tersebut bertujuan memperkuat pemahaman pelaku usaha dan aparatur pemerintah mengenai penerapan prinsip Human Rights Due Diligence (HRDD), serta penggunaan sistem Penilaian Risiko Bisnis dan HAM (PRISMA) sebagai instrumen penilaian risiko HAM dalam aktivitas bisnis.
Dalam sambutannya, Mugiyanto juga membagikan pengalaman perjalanan menuju Swiss untuk menghadiri agenda internasional yang tidak dapat dilanjutkan karena penutupan jalur udara di sejumlah kawasan yang terdampak eskalasi konflik geopolitik. Saat itu, ia bersama Direktur Kepatuhan HAM Masyarakat, Komunitas, dan Pelaku Usaha Kementerian HAM, Siti Fajar Ningrum, sempat berada di Doha, Qatar, dan sementara menunggu perkembangan situasi penerbangan internasional di Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Doha sebelum akhirnya kembali ke Indonesia.
Mugiyanto menilai pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa konflik global tidak hanya berdampak pada wilayah yang berkonflik, tetapi juga dapat memengaruhi mobilitas internasional, agenda diplomasi global, serta stabilitas ekonomi dunia. Ia mengingatkan dampak lanjutan dapat merembet pada sektor strategis seperti energi dan pangan yang berkaitan dengan kelangsungan aktivitas usaha lintas negara.
“Situasi yang kami alami menunjukkan bahwa ketegangan geopolitik dapat berdampak luas terhadap mobilitas internasional dan aktivitas diplomasi global. Ini menjadi pengingat bahwa stabilitas dunia sangat penting bagi perlindungan kemanusiaan dan keberlanjutan aktivitas internasional,” kata Mugiyanto.

