Wacana penerapan pembelajaran daring sebagai langkah penghematan energi di tengah krisis energi global menuai kritik. Kebijakan tersebut dinilai berisiko mengorbankan kualitas pendidikan apabila diterapkan tanpa perhitungan matang.
Sejumlah pengalaman selama masa pandemi menjadi rujukan utama dalam penilaian ini. Pembelajaran jarak jauh pada periode tersebut disebut memunculkan potensi learning loss atau penurunan capaian belajar, yang berdampak pada pemahaman materi dan perkembangan akademik siswa.
Selain itu, pembelajaran daring juga dinilai dapat memperlebar kesenjangan digital. Perbedaan akses terhadap perangkat, jaringan internet, dan dukungan belajar di rumah berpotensi membuat sebagian siswa tertinggal dibandingkan yang memiliki fasilitas lebih memadai.
Dampak lain yang disorot adalah aspek psikososial. Pembelajaran yang berlangsung dalam jangka panjang tanpa tatap muka dapat memengaruhi kondisi mental dan sosial siswa, termasuk interaksi dengan teman sebaya dan lingkungan sekolah.
Dengan berbagai risiko tersebut, diperlukan solusi yang lebih adaptif dalam merespons situasi krisis energi tanpa mengabaikan esensi pendidikan. Kebijakan yang diambil diharapkan tetap mempertimbangkan mutu pembelajaran, pemerataan akses, serta kebutuhan perkembangan siswa.

