WASHINGTON — Utang nasional Amerika Serikat (AS) dilaporkan telah melampaui 39 triliun dolar AS dan dinilai berpotensi menjadi risiko besar bagi stabilitas ekonomi global. Namun, isu tersebut disebut belum menjadi perhatian utama pelaku pasar keuangan internasional.
Pandangan itu disampaikan Nigel Green, pimpinan deVere Group. Menurutnya, besarnya utang AS bukan semata persoalan jangka panjang, melainkan masalah fundamental yang bisa memengaruhi arah pasar secara luas.
Green menilai utang pada level tersebut berdampak pada cara AS membiayai kebutuhannya, cara pasar menilai risiko, serta bagaimana investor memandang stabilitas ke depan. Ia juga menyoroti bahwa situasi ini terjadi di tengah ketegangan geopolitik global, termasuk konflik yang melibatkan Iran.
Ia menyebut dampaknya mulai tampak melalui kenaikan harga minyak, meningkatnya volatilitas pasar, serta gejolak pada obligasi pemerintah AS (Treasuries). Dalam kondisi fiskal saat ini, defisit anggaran AS diperkirakan tetap berada di kisaran 2 triliun dolar AS per tahun, sementara beban bunga utang mendekati 1 triliun dolar AS per tahun dan terus meningkat.
Menurut Green, besarnya pembayaran bunga membuat persoalan utang tidak lagi bersifat abstrak bagi pasar. Ia menilai konsekuensi tersebut juga mulai terasa pada sektor riil, antara lain meningkatnya biaya pinjaman, naiknya suku bunga kredit dan kredit pemilikan rumah (KPR), serta perlambatan aktivitas ekonomi seperti pembelian rumah.
Selain itu, tingginya utang dinilai membuat AS lebih rentan terhadap berbagai guncangan, termasuk lonjakan imbal hasil obligasi, tekanan ekonomi global, hingga potensi menurunnya minat investor asing terhadap surat utang pemerintah. Green juga menyoroti adanya tanda-tanda melemahnya permintaan terhadap obligasi AS, sementara likuiditas pasar disebut semakin rapuh ketika terjadi gejolak.
Green memperingatkan bahwa pasar selama ini cenderung terlalu percaya diri dengan asumsi utang AS akan selalu mudah dikelola karena besarnya ekonomi negara itu dan dominasi dolar AS dalam sistem keuangan global. Menurutnya, sikap tersebut justru berisiko memicu kejutan besar di kemudian hari.
Dalam jangka panjang, ia menilai lonjakan utang berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi, mempertahankan suku bunga pada level tinggi, serta mengikis kepercayaan terhadap dolar AS. Green menegaskan, utang AS seharusnya menjadi salah satu perhatian utama di pasar keuangan global saat ini, karena dampaknya dikhawatirkan baru terasa ketika kondisi sudah terlanjur memburuk dan sulit dikendalikan.

