Kapal induk Amerika Serikat USS George H.W. Bush bersama kapal-kapal pengawalnya dilaporkan berlayar memutari Afrika bagian selatan untuk menuju kawasan Timur Tengah. Rute ini dipilih dengan menghindari Laut Merah dan Bab el-Mandeb guna mengantisipasi kemungkinan serangan dari kelompok Houthi, menurut laporan USNI News pada Selasa (14/4).
Demi alasan keamanan, kapal induk tersebut juga tidak melintasi Selat Gibraltar menuju Laut Mediterania, rute yang umumnya digunakan kapal induk berbasis Pantai Timur AS saat bergerak ke Timur Tengah. Dalam laporan yang sama, kapal itu disebut bersiap bergabung dengan kekuatan angkatan laut AS yang terus bertambah di Laut Arab.
Pergerakan armada itu terjadi di tengah langkah militer AS di kawasan. Pada hari yang sama, Komando Pusat AS mulai memberlakukan blokade di jalur perairan terkait, sebagai tindak lanjut dari arahan Presiden Donald Trump setelah perundingan antara Washington dan Teheran dilaporkan gagal mencapai kesepakatan.
Sebelumnya, Iran dan Amerika Serikat memulai pembicaraan di Islamabad pada Sabtu, setelah Trump mengumumkan telah mencapai kesepakatan dengan Teheran terkait gencatan senjata selama dua pekan. Namun pada Ahad (12/4) pagi, Pemimpin Delegasi AS, Wakil Presiden J.D. Vance, menyatakan perundingan tersebut tidak menghasilkan kesepakatan dan delegasi AS akan pulang tanpa hasil.
Setelah itu, pada Senin (13/4), Amerika Serikat memulai blokade angkatan laut terhadap seluruh lalu lintas maritim yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran di tengah gencatan senjata. Kebijakan ini dinilai meningkatkan kemungkinan kedua negara kembali terseret ke konfrontasi di sekitar Selat Hormuz sekaligus mengancam kelangsungan gencatan senjata sementara.
Blokade tersebut dikonfirmasi Trump saat berbicara kepada wartawan di Washington. Ia mengatakan keputusan itu diambil setelah pembicaraan tingkat tinggi AS-Iran pada akhir pekan berakhir tanpa terobosan. Menurut Trump, langkah itu bertujuan membuka kembali Selat Hormuz guna menurunkan harga bensin global dan menekan Iran agar kembali ke meja perundingan. Ia juga menegaskan tidak akan mengizinkan Iran memiliki senjata nuklir.
Berbicara di Gedung Putih, Trump menyatakan yakin Iran akan setuju meninggalkan ambisi nuklirnya. Ia menambahkan bahwa pihak yang disebutnya tepat di Iran telah menghubungi AS pada pagi hari dan menyampaikan keinginan untuk mencapai kesepakatan.
“Kita tidak bisa membiarkan suatu negara memeras atau mengancam dunia, karena itulah yang mereka lakukan. Mereka benar-benar memeras dunia. Kita tidak akan membiarkan itu terjadi,” ujar Trump.
Setelah kegagalan perundingan di Pakistan, Trump memperkeras sikap terhadap Iran, yang disebut telah menutup Selat Hormuz bagi kapal tanker sejak Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan pada akhir Februari. Penutupan selat tersebut, ditambah dampak kegagalan pembicaraan damai, disebut mendorong kenaikan tajam harga bensin, pangan, dan berbagai komoditas di berbagai negara.
Pada Senin, Trump juga kembali mengancam melalui media sosial bahwa kapal perang Iran yang mendekati kapal AS dalam operasi blokade akan segera dihancurkan. Sementara itu, Komando Pusat Militer AS menyatakan blokade diberlakukan tanpa pandang bulu terhadap kapal dari semua negara yang keluar masuk pelabuhan dan wilayah pesisir Iran, termasuk di Teluk Arab dan Teluk Oman.