BRUSSELS – Negara-negara Uni Eropa secara kolektif menolak permintaan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk terlibat dalam operasi militer pengamanan jalur pelayaran di Selat Hormuz. Dalam pertemuan para menteri luar negeri Uni Eropa di Brussels, blok tersebut menegaskan bahwa mereka memprioritaskan pendekatan diplomasi demi menjaga stabilitas kawasan.
Sikap itu mengemuka di tengah meningkatnya ketegangan setelah Iran menutup Selat Hormuz sejak awal Maret 2026. Penutupan jalur strategis tersebut disebut sebagai respons Iran atas serangan gabungan AS dan Israel, yang turut berdampak pada terganggunya distribusi energi global.
Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas menegaskan negara-negara Eropa tidak memiliki kepentingan untuk terlibat langsung dalam konflik bersenjata. Ia menyatakan Eropa tidak memiliki keinginan untuk secara aktif terlibat dalam aksi militer terhadap Iran dan menekankan bahwa tidak ada yang ingin terseret dalam perang berkepanjangan.
Menurut Kallas, Uni Eropa tetap berkomitmen menjaga keamanan jalur pelayaran internasional, namun melalui pendekatan non-militer. Ia juga menyampaikan bahwa Uni Eropa tidak berencana memperluas misi yang sudah berjalan, seperti Operasi Aspides di Laut Merah, ke wilayah Selat Hormuz.
Pandangan serupa disampaikan Menteri Luar Negeri Italia Antonio Tajani. Ia menyebut mandat operasi angkatan laut Uni Eropa saat ini tidak mencakup Selat Hormuz. Italia, kata Tajani, bersedia memperkuat misi yang ada, namun tidak melihat kemungkinan perluasan mandat hingga mencakup kawasan tersebut.
Penolakan juga datang dari sejumlah negara Eropa lainnya. Kanselir Jerman Friedrich Merz menegaskan pemerintahnya tidak akan mengirim pasukan ke kawasan Teluk dan mendorong penyelesaian melalui jalur politik. Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyatakan negaranya tidak akan terlibat dalam konflik yang lebih luas. Polandia dan Belgia juga menekankan pentingnya diplomasi dibandingkan keterlibatan militer.
Menteri Luar Negeri Polandia Radoslaw Sikorski mengkritik pendekatan AS dalam mendorong keterlibatan sekutu. Sementara itu, Menteri Luar Negeri Belgia Bart De Wever menegaskan negaranya tidak akan ambil bagian dalam operasi militer bersama AS dan Israel.
Penolakan kolektif ini menegaskan perbedaan pendekatan antara AS dan negara-negara Eropa dalam merespons krisis di Selat Hormuz. AS mendorong langkah militer untuk menjamin keamanan jalur energi global, sedangkan Uni Eropa memilih jalur diplomasi guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.

