Siswa kelas 11 yang menggunakan Kurikulum Merdeka mendapat tugas Bahasa Indonesia pada halaman 136 yang dikerjakan secara berkelompok. Dalam tugas ini, siswa diminta membentuk kelompok berisi 4–5 orang untuk menganalisis penggalan cerpen berjudul “Semangkuk Perpisahan di Meja Makan” karya Miranda Seftiana.
Tugas tersebut tercantum dalam buku Cerdas Cergas Berbahasa dan Bersastra Indonesia yang ditulis Heny Marwati dan K. Waskitaningtyas. Buku ini terdiri dari enam bab, dan pada Bab 5 mengangkat tema “Mengenak Keberagaman Indonesia Lewat Pertunjukan Drama”.
Dalam instruksi kerja kelompok, siswa diminta mengidentifikasi unsur-unsur yang diperlukan untuk mengubah kutipan cerpen menjadi bentuk drama. Unsur yang dimaksud meliputi jumlah babak, latar tempat dan waktu, pemeran, dialog antartokoh, serta keterangan lakuan (petunjuk tindakan pemain).
Berdasarkan kutipan yang dianalisis, terdapat tiga adegan. Pada Adegan 1, tokoh “Aku” (dr. Hen) berdialog dengan “Ibu” melalui percakapan yang menggambarkan kesibukan tokoh “Aku” sebagai dokter. Keterangan lakuan tokoh “Aku” ditampilkan, seperti menjepit ponsel di antara kepala dan bahu sambil berusaha melepaskan sarung tangan bekas operasi, kemudian membuangnya ke tempat sampah, hingga duduk di kursi meja kerja. Sementara itu, tokoh “Ibu” menyampaikan sejumlah pertanyaan dan pernyataan, dengan keterangan lakuan yang dicatat tidak tertulis langsung karena cerpen menggunakan sudut pandang tokoh “Aku”. Dalam pementasan drama, bagian ini dapat diberi efek suara untuk menggambarkan suara ibu yang menggema di ruangan.
Adegan 2 berlatar di dapur pada pagi hari. Dalam adegan ini, tokoh “Aku” dan “Ibu” terlibat dialog tentang cara memecah kemiri. Tokoh “Aku” menyanggah, sementara tokoh “Ibu” menyela dan menekankan kehati-hatian. Keterangan lakuan menggambarkan tokoh “Aku” yang terdiam dan menyaksikan tindakan ibu memecah kemiri dengan sangat hati-hati. Gerakan memecah kemiri dijelaskan rinci: ibu menjepit kemiri dengan telunjuk dan jempol, mengetuknya dengan ulekan hingga kulitnya rekah, lalu melebarkan rekahan menggunakan ujung pisau sampai terpisah.
Adegan 3 berlatar di kamar tidur pada pagi hari. Tokoh “Aku” berpamitan untuk kembali ke rumah sakit, lalu panik ketika mendapati ibu lunglai menyandar di pintu lemari. Keterangan lakuan menyebut tubuh ibu masih terbalut mukena dengan tasbih di tangan, dan tokoh “Aku” memeriksa pergelangan tangan serta lehernya sebelum menyadari ibu telah tiada. Pada bagian ini juga muncul tokoh suami dari “Aku” dengan dialog yang menanyakan apakah perlu memesan jamuan dari katering, disertai keterangan lakuan memandang ragu. Selain itu, tokoh anak-anak digambarkan hadir melalui keterangan lakuan yang menunjukkan suasana duka saat mereka datang dan memeluk tokoh “Aku”.
Melalui kerja kelompok ini, siswa diarahkan untuk menyusun identifikasi unsur drama secara sistematis berdasarkan kutipan cerpen, mulai dari pembagian adegan, penentuan latar, daftar tokoh, rangkaian dialog, hingga petunjuk gerak dan suasana yang dapat diterapkan dalam pementasan.

