Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan ingin “mengambil minyak di Iran” dan menyebut kemungkinan merebut pusat ekspor minyak di Pulau Kharg. Pernyataan itu disampaikan dalam wawancara yang diterbitkan Financial Times pada Minggu (29/3/2026), di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah yang mengguncang pasar energi global.
Situasi pasar disebut telah memasuki “skenario terburuk kedua” sebulan setelah serangan AS dan Israel terhadap Iran, menurut kolumnis Reuters, Clyde Russell. Guncangan tidak hanya terasa pada minyak mentah, tetapi juga produk olahan dan gas alam cair (LNG).
Kerentanan pasar saat ini sangat ditentukan oleh kondisi Selat Hormuz, jalur strategis yang biasanya menyalurkan sekitar 20% pasokan minyak, produk olahan, dan LNG dunia. Saat ini, selat tersebut disebut masih hampir tertutup bagi sebagian besar kapal, membuat pasar energi berada dalam posisi rapuh.
Di tengah kondisi itu, kampanye udara yang disebut melemahkan kepemimpinan dan kemampuan militer Iran belum mengubah persoalan utama: sebagian besar tanker masih tidak dapat melintasi Selat Hormuz dengan aman. Iran juga dinilai tetap memiliki kemampuan menyerang infrastruktur energi penting di kawasan Teluk, sehingga risiko terhadap ekonomi global tetap tinggi.
Skenario paling mengkhawatirkan adalah eskalasi tajam berupa serangan luas Iran menggunakan rudal dan drone terhadap infrastruktur energi di Teluk, termasuk pipa, kilang, fasilitas pengolahan, dan terminal ekspor. Pemicu yang disebut paling mungkin adalah jika pasukan darat AS mencoba merebut wilayah yang dikuasai Iran, termasuk terminal minyak Pulau Kharg dan pulau-pulau kecil di Selat Hormuz.
Meski sebuah invasi darat bisa saja berhasil secara militer, penghancuran infrastruktur energi berisiko mengubah krisis pasar yang sudah serius menjadi bencana energi global yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Di pasar, kontrak berjangka minyak mentah Brent masih mencerminkan penilaian bahwa ketegangan bisa mereda dan aliran melalui Selat Hormuz berangsur normal. Brent futures dibuka menguat 2,7% menjadi sekitar US$115,55 per barel pada perdagangan Asia Senin, dari US$112,57 pada 27 Maret. Sejak 27 Februari—sehari sebelum serangan AS dan Israel ke Iran—harga Brent dilaporkan telah naik 59%.
Lonjakan lebih tajam terlihat pada harga fisik produk olahan di Asia. Harga bahan bakar jet di Singapura pada 27 Maret mencapai US$222,77 per barel, mendekati rekor US$227,98 pada 23 Maret, dan lebih dari dua kali lipat dibanding US$93,45 pada 27 Februari. Gasoil, bahan baku diesel, naik menjadi US$182,76 per barel, hampir dua kali lipat dari US$91,42. Harga bensin juga naik 65% dibanding sebelum konflik.
Kenaikan itu mengindikasikan kilang-kilang di Asia kesulitan memperoleh pasokan minyak yang cukup untuk beroperasi, sementara importir bahan bakar seperti Australia dan Indonesia berlomba mengamankan suplai.
Dampak perang terhadap pasokan energi disebut paling cepat terasa di Asia karena kawasan ini menjadi tujuan sekitar 80% minyak dan bahan bakar olahan yang melewati Selat Hormuz. Namun tekanan diperkirakan menyebar ke wilayah lain ketika kilang dan importir menarik pasokan terbatas dari kawasan Atlantik, yang berpotensi mendorong harga lebih tinggi.
Saat ini, dunia disebut kehilangan sekitar 12 juta barel per hari (bpd) pasokan minyak dan produk olahan karena aliran sekitar 19 juta bpd melalui Selat Hormuz tersendat. Upaya Arab Saudi meningkatkan ekspor melalui pelabuhan Laut Merah dan Uni Emirat Arab menambah pengiriman dari Fujairah disebut sedikit mengurangi kekurangan, tetapi kehilangan lebih dari 10% pasokan minyak global dinilai tetap sulit diatasi, terutama dalam jangka panjang.
Risiko yang dipandang nyata adalah konflik dengan Iran berlanjut atau meningkat dalam beberapa pekan ke depan. Invasi darat AS dapat memicu serangan Iran ke pipa Saudi di Laut Merah atau fasilitas penting di Fujairah. Selain itu, sekutu Iran, Houthi di Yaman, berpotensi menutup Selat Bab el-Mandeb, yang dapat memaksa ekspor Saudi hanya melalui Terusan Suez dan meningkatkan biaya serta waktu pengiriman ke Asia.
Dengan perkembangan tersebut, pasar minyak mentah dan LNG dinilai mungkin perlu mulai memperhitungkan kemungkinan hilangnya pasokan dari Timur Tengah secara berkelanjutan—risiko yang disebut belum sepenuhnya tercermin dalam harga saat ini.

