Presiden Amerika Serikat Donald Trump dijadwalkan melakukan kunjungan kenegaraan ke China selama tiga hari pada 13–15 Mei. Dalam agenda tersebut, Trump akan bertemu Presiden China Xi Jinping untuk membahas perang terkait Iran serta isu perdagangan.
Pernyataan mengenai kunjungan itu disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri China. Kunjungan tersebut disebut berlangsung atas undangan Xi Jinping.
Dari pihak Gedung Putih, Wakil Sekretaris Pers Utama Anna Kelly mengatakan upacara pembukaan dan pertemuan akan digelar pada Kamis pagi dan berakhir pada Jumat. Ia juga menyebut Amerika Serikat berencana menjamu Xi Jinping dalam kunjungan balasan pada akhir tahun ini.
Kelly menilai kunjungan Trump memiliki “makna simbolis yang luar biasa” dan akan berfokus pada upaya “menyeimbangkan kembali hubungan dengan China” serta memprioritaskan timbal balik dan keadilan untuk memulihkan kemandirian ekonomi Amerika.
Kunjungan ini sebelumnya dijadwalkan pada awal tahun, namun ditunda pada Maret karena perang AS-Israel di Iran.
Seorang pejabat senior pemerintahan AS, yang berbicara secara anonim kepada media, menyatakan Trump dapat “memberikan tekanan” kepada China terkait Iran, termasuk dalam isu penjualan minyak serta pembelian barang-barang militer-sipil yang berpotensi memiliki fungsi ganda oleh Teheran.
Pekan lalu, Menteri Keuangan AS Scott Bessent menuduh China “mendanai” Iran. Ia mengatakan China membeli 90 persen energi Iran.
Di sisi lain, Iran diketahui menutup Selat Hormuz sebagai tanggapan atas serangan AS-Israel, yang membatasi jalur utama transportasi energi global.
China menyatakan keinginannya untuk mengakhiri perang dan pekan lalu menjamu Menteri Luar Negeri Iran Abbas Arraghchi. Namun, Beijing menolak mengakui sanksi “sepihak” Washington terhadap sektor minyak Iran.
Gangguan akibat perang disebut telah memengaruhi ekonomi global, dengan negara-negara Asia yang bergantung pada impor dari Timur Tengah menjadi yang paling terdampak.