BERITA TERKINI
Trump Ancam Blokade Selat Hormuz Usai Perundingan AS-Iran Buntu

Trump Ancam Blokade Selat Hormuz Usai Perundingan AS-Iran Buntu

TEHERAN — Ketegangan global kembali meningkat setelah Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan memblokade Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu titik paling vital bagi distribusi energi dunia. Ancaman itu disampaikan menyusul gagalnya perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan.

Melalui unggahan di Truth Social pada Minggu, 12 April 2026, Trump menyatakan Angkatan Laut AS akan segera memulai proses blokade terhadap kapal-kapal yang keluar masuk Selat Hormuz. Ia juga menegaskan kapal yang mencoba melintas akan dicegat, terutama bila diketahui membayar biaya kepada Iran.

Selat Hormuz memiliki peran strategis karena sekitar 20 persen distribusi minyak global melewati jalur tersebut. Gangguan terhadap lalu lintas di kawasan itu berpotensi memicu gejolak harga energi dunia. Dalam beberapa pekan terakhir, ketegangan di wilayah tersebut disebut telah ikut mendorong kenaikan harga minyak.

Trump menuduh Iran melakukan “pemerasan dunia” dengan membatasi akses pelayaran dan menyebarkan ancaman ranjau laut. Ia juga memperingatkan kapal yang telah membayar biaya kepada Teheran tidak akan mendapatkan perlindungan.

Pernyataan itu muncul setelah perundingan di Islamabad, Pakistan, berakhir tanpa kesepakatan. Negosiasi yang berlangsung berjam-jam hingga larut malam menemui jalan buntu, dengan dua isu utama menjadi ganjalan: program nuklir Iran dan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Washington menuntut Iran membuka jalur pelayaran dan menyerahkan cadangan uranium yang telah diperkaya. Namun Iran menolak. Teheran, sebaliknya, menuntut pencabutan sanksi serta pencairan aset bernilai miliaran dolar yang dibekukan di luar negeri. Kebuntuan tersebut membuat perundingan berakhir tanpa titik temu.

Di tengah situasi itu, Trump juga melontarkan pernyataan keras terkait kondisi militer Iran. Ia menyebut infrastruktur militer Iran telah “hancur” setelah konflik lebih dari 40 hari, namun masih ada target strategis yang tersisa. Trump turut menyinggung kemungkinan serangan terhadap fasilitas vital seperti jaringan listrik dan pabrik air.

Meski demikian, Trump menyatakan keyakinannya bahwa Iran akan kembali ke meja perundingan. Dalam sebuah wawancara televisi, ia mengatakan tekanan militer menjadi kunci untuk memaksa kompromi.

Di lapangan, situasi di kawasan Teluk dilaporkan berdampak pada aktivitas pelayaran. Penutupan Selat Hormuz disebut telah membuat ratusan kapal tertahan di perairan Teluk, sementara ribuan pelaut terjebak dan biaya logistik melonjak. Pasar global pun merespons dengan volatilitas tinggi, terutama bagi negara-negara yang bergantung pada impor energi.

Dunia kini menanti langkah berikutnya, apakah ancaman blokade akan dijalankan atau menjadi tekanan untuk membuka kembali jalur diplomasi. Yang jelas, Selat Hormuz kembali menjadi titik panas yang mempertemukan kepentingan geopolitik, energi, dan kekuatan militer.