Krisis energi global yang disebut sebagai imbas ketegangan di kawasan Timur Tengah pada 2026 dirasakan di berbagai belahan dunia. Di tengah situasi tersebut, masyarakat di sejumlah negara mengambil langkah-langkah praktis untuk menekan pengeluaran dan menjaga mobilitas sehari-hari.
Di Peru, banyak warga memilih mengonversi kendaraan mereka dari bahan bakar minyak (BBM) ke gas alam yang dinilai lebih murah. Langkah ini dilakukan secara mandiri, dengan bengkel-bengkel kecil turut menawarkan jasa konversi cepat sebagai solusi darurat bagi pemilik kendaraan.
Sementara itu di Filipina, pengemudi transportasi umum mulai menerapkan cara kolektif untuk mengurangi beban biaya bahan bakar. Mereka berbagi rute dan penumpang agar operasional lebih efisien. Sebagian warga lainnya juga menyesuaikan pola perjalanan dengan beralih menggunakan sepeda atau berjalan kaki untuk jarak dekat.