JAKARTA — Tren slow travel kian mengubah lanskap pariwisata di Asia Pasifik. Wisatawan mulai meninggalkan pola liburan serba cepat dan beralih ke pengalaman yang lebih lambat, intim, serta bermakna. Perubahan perilaku ini turut mendorong peran resor naik kelas dari sekadar tempat menginap menjadi tujuan utama untuk beristirahat, terhubung, dan memulihkan diri.
Perkembangan tersebut tercermin dalam proyeksi industri global. Sektor resor diperkirakan tumbuh dengan tingkat pertumbuhan tahunan majemuk (CAGR) 19,6% pada periode 2025–2030. Sementara itu, pendapatan industri di kawasan Asia Pasifik diprediksi menembus USD 945,4 miliar pada 2030, memperkuat posisi resor sebagai salah satu pusat perhatian baru dalam industri pariwisata.
Laporan tren 2026 dari Hilton mengidentifikasi dua pendorong utama di balik pergeseran ini, yakni “Hushpitality” dan “Generation Permutations”. “Hushpitality” merujuk pada kemewahan yang tenang, pengalaman alam yang imersif, serta kebutuhan akan me time yang lebih personal. Adapun “Generation Permutations” menggambarkan meningkatnya perjalanan lintas generasi yang bertujuan mempererat ikatan keluarga. Kedua tren tersebut bermuara pada kebutuhan akan perjalanan yang lebih lambat, sadar, dan terkoneksi.
Vincent Ong, Vice President Full-Service Brands Asia Pacific Hilton, menyebut wisatawan di kawasan ini semakin selektif dalam memanfaatkan waktu libur. “Seiring wisatawan di Asia Pasifik semakin selektif dalam memanfaatkan waktu libur mereka, kami melihat pergeseran menuju pengalaman menginap di resor yang mengutamakan istirahat, keterlibatan yang lebih dalam, serta koneksi yang lebih bermakna,” ujarnya.
Menurut Ong, pengalaman yang ditawarkan resor kini dirancang sebagai perjalanan yang utuh, antara lain melalui program wellness, lingkungan alam, serta aktivitas yang dapat diikuti berbagai kelompok usia.