BERITA TERKINI
TKA SMA Digelar Awal November 2025, Bahasa Indonesia Fokus pada Keterampilan Membaca

TKA SMA Digelar Awal November 2025, Bahasa Indonesia Fokus pada Keterampilan Membaca

Tes Kemampuan Akademik (TKA) untuk jenjang SMA dijadwalkan berlangsung pada awal November 2025. Seiring pelaksanaannya yang kian dekat, siswa dapat memanfaatkan kisi-kisi dan rangkuman materi Bahasa Indonesia sebagai bahan belajar mandiri di rumah.

TKA merupakan asesmen terstandar nasional untuk mengukur capaian akademik siswa pada sejumlah mata pelajaran. Tes ini bersifat tidak wajib dan tidak menjadi penentu kelulusan. Fungsinya lebih sebagai pelengkap asesmen di sekolah, bahan pertimbangan seleksi jalur prestasi, serta alat pemetaan mutu pendidikan secara keseluruhan.

Pada jenjang SMA, mata pelajaran yang diujikan meliputi Matematika, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, serta dua mata pelajaran pilihan. Berdasarkan Surat Edaran Kemendikdasmen nomor 3866/H.H4/SK.01.01/2025 tentang Pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik Tahun 2025, TKA SMA digelar dalam dua gelombang, yaitu gelombang 1 pada Senin–Selasa, 3–4 November 2025, dan gelombang 2 pada Rabu–Kamis, 5–6 November 2025.

Pada hari pertama, peserta akan mengikuti ujian Bahasa Indonesia, Matematika, dan Bahasa Inggris. Sementara itu, hari kedua digunakan untuk menguji dua mata pelajaran pilihan.

Khusus untuk Bahasa Indonesia, TKA menitikberatkan pada keterampilan membaca. Kemampuan ini diposisikan sebagai keterampilan dasar yang mendukung proses belajar, sekaligus dinilai relevan dalam kehidupan di luar sekolah, termasuk dunia kerja di tengah perkembangan teknologi yang pesat.

Dalam TKA Bahasa Indonesia SMA, keterampilan membaca diuji melalui dua kategori teks, yakni teks informasi dan teks fiksi. Teks informasi mencakup bacaan berisi fakta, konsep, prosedur, maupun metakognisi, dengan topik yang dapat berskala lokal hingga global. Adapun teks fiksi dapat berupa cerita realis atau absurd, berlatar konkret maupun abstrak, menampilkan tokoh berkarakter bulat, konflik tunggal atau jamak, serta alur dan sudut pandang campuran.

Teks yang digunakan juga memiliki ciri kebahasaan tertentu. Dari sisi kosakata, materi mencakup kata umum dan khusus, kata berimbuhan kompleks, istilah teknis, kata abstrak, serta makna denotatif dan konotatif dalam konteks luas. Dari sisi kalimat, struktur umumnya terdiri atas 8–12 kata per kalimat, termasuk penggunaan kalimat kompleks dengan pola bervariasi dan kalimat inversi. Dari sisi wacana, teks ditandai pemakaian konjungsi antarparagraf—misalnya pertentangan dan sebab-akibat—serta penggunaan tanda baca yang mendukung ekspresi makna. Panjang teks rata-rata berkisar 250–300 kata, kecuali puisi.

Secara umum, kompetensi yang diujikan dalam TKA Bahasa Indonesia mencakup tiga aspek, yaitu pemahaman tekstual, pemahaman inferensial, serta evaluasi dan apresiasi. Pada pemahaman tekstual, peserta diharapkan mampu mengidentifikasi penggunaan kata serapan dari bahasa daerah atau asing, mengenali latar dan karakter berdasarkan kosakata dalam teks fiksi maupun nonfiksi, serta menyusun kerangka atau bagan berdasarkan bagian penting teks.

Rangkuman materi pemahaman tekstual mencakup pemahaman tentang kata serapan, termasuk cara penyerapan melalui adopsi, adaptasi, dan terjemahan. Materi juga menekankan analisis latar—tempat, waktu, dan suasana—serta perwatakan tokoh yang dapat dikenali melalui tindakan, ucapan, pikiran, atau sikap tokoh. Selain itu, siswa perlu menguasai penyusunan kerangka atau bagan teks sebagai cara merangkum ide utama dan penjelas secara sistematis, baik dalam bentuk garis besar maupun visual seperti diagram atau mind map.

Pada pemahaman inferensial, kemampuan yang diukur meliputi penarikan kesimpulan mengenai ide pokok dan gagasan pendukung, tokoh, peristiwa, latar, konflik, maupun nilai-nilai dalam teks. Peserta juga diuji dalam menjelaskan hubungan makna antarkalimat dan antarparagraf, serta memprediksi lanjutan atau akhir uraian maupun cerita berdasarkan petunjuk yang tersedia.

Dalam rangkuman materi inferensial, siswa diarahkan memahami struktur paragraf—termasuk kalimat utama dan kalimat penjelas—serta jenis paragraf berdasarkan letak ide pokok (deduktif, induktif, campuran) dan berdasarkan tujuan (deskripsi, eksposisi, persuasi, argumentasi, narasi). Materi juga mencakup pembedaan fakta dan opini, serta pengenalan nilai-nilai sastra seperti moral, agama, budaya, edukasi, dan sosial.

Untuk hubungan antarkalimat, siswa perlu mengenali keterpaduan makna yang ditandai konjungsi atau rujukan, misalnya hubungan sebab-akibat, perbandingan, pertentangan, penambahan, tujuan, kronologis, dan penegasan. Sementara hubungan antarparagraf mencakup pola sebab-akibat, pertentangan, perluasan atau penjelasan, serta urutan waktu atau peristiwa. Adapun kemampuan memprediksi dikaitkan dengan pemahaman alur, tokoh dan watak, konflik, kosakata penanda, serta jenis teks.

Kompetensi ketiga, evaluasi dan apresiasi, menilai kemampuan siswa dalam mengaitkan peristiwa pada teks dengan kehidupan sehari-hari, menilai keakuratan dan kecukupan informasi, menilai ketepatan penggunaan bahasa, serta menyimpulkan respons emosional terhadap unsur puisi, prosa, dan drama. Pada aspek relevansi, penilaian dilakukan dengan memahami teks, menentukan peristiwa penting, menggali pesan, lalu membandingkannya dengan pengalaman nyata.

Dalam penilaian informasi, siswa dituntut menerapkan membaca kritis melalui empat aspek, yakni keakuratan, kesesuaian, kecukupan, dan ketepatan. Sementara dalam penilaian bahasa, perhatian diarahkan pada ketepatan ejaan, tanda baca, diksi, dan struktur kalimat efektif, serta kecocokan gaya bahasa dengan jenis teks—misalnya teks berita yang faktual dan lugas, teks cerita yang ekspresif, atau teks prosedur yang menggunakan kata kerja perintah.

Adapun respons emosional terhadap karya sastra dipahami sebagai reaksi perasaan pembaca atau penonton setelah menikmati puisi, prosa, atau drama. Pemicu emosi dapat muncul dari diksi puitis, citraan, majas, tema, tokoh, konflik, latar suasana, hingga dialog dan pementasan.

Dengan memahami kisi-kisi dan rangkuman materi tersebut, siswa diharapkan dapat mempersiapkan diri menghadapi TKA Bahasa Indonesia secara lebih terarah, terutama pada aspek membaca dan penalaran terhadap berbagai jenis bacaan.