BERITA TERKINI
Tiongkok Diperkirakan Pertahankan Suku Bunga Pinjaman, Tak Mengikuti Langkah The Fed

Tiongkok Diperkirakan Pertahankan Suku Bunga Pinjaman, Tak Mengikuti Langkah The Fed

Shanghai—Tiongkok diperkirakan akan mempertahankan suku bunga acuan pinjaman (loan prime rate/LPR) tanpa perubahan untuk bulan keempat berturut-turut pada Senin, meski Federal Reserve AS sebelumnya memangkas suku bunga. Perkiraan ini muncul setelah bank sentral Tiongkok mempertahankan suku bunga kebijakan utamanya tetap stabil.

Sejumlah data terbaru menunjukkan ekonomi Tiongkok kehilangan momentum. Namun, otoritas dinilai belum terburu-buru meluncurkan stimulus besar, di tengah kinerja ekspor yang masih tangguh dan reli pasar saham dalam beberapa waktu terakhir.

LPR merupakan suku bunga pinjaman utama yang umumnya dikenakan kepada nasabah terbaik bank. Besarannya dihitung setiap bulan setelah 20 bank komersial yang ditunjuk menyampaikan usulan suku bunga kepada Bank Rakyat Tiongkok (PBOC).

Dalam survei Reuters terhadap 20 pengamat pasar pekan ini, seluruh responden memperkirakan LPR tenor satu tahun dan lima tahun akan tetap di 3,00 persen dan 3,5 persen. LPR satu tahun menjadi acuan bagi sebagian besar pinjaman baru maupun yang masih berjalan, sedangkan LPR lima tahun berpengaruh pada penetapan harga hipotek.

Sebelumnya, Tiongkok memangkas kedua LPR sebesar 10 basis poin pada Mei lalu. PBOC juga membiarkan suku bunga repo terbalik tujuh hari tidak berubah pada Kamis, setelah keputusan The Fed menurunkan suku bunga.

Analis Barclays menilai pelemahan data aktivitas pada Juli–Agustus meningkatkan urgensi untuk menghadirkan stimulus baru, tetapi mereka tetap berhati-hati mengenai besarnya tambahan stimulus fiskal. “Meskipun penurunan yang meluas pada data aktivitas Juli-Agustus meningkatkan urgensi untuk memperkenalkan stimulus baru, kami tetap berhati-hati tentang besarnya stimulus fiskal baru,” tulis Barclays dalam catatan analisnya.

Meski diproyeksikan menahan LPR dalam waktu dekat, sebagian analis memperkirakan pelonggaran moneter secara terbatas dapat terjadi pada akhir tahun. Langkah tersebut dinilai dapat membantu perekonomian terbesar kedua di dunia itu mencapai target pertumbuhan tahunan pemerintah sekitar lima persen.

Kepala ekonom Tiongkok di Macquarie, Larry Hu, menyebut data yang buruk selama dua bulan terakhir seharusnya meyakinkan pembuat kebijakan untuk mengambil langkah tambahan guna menstabilkan ekonomi. Namun, menurutnya, kebijakan perlu dilakukan secara bertahap.

“Yang pasti, langkah-langkah ini harus bertahap, karena para pembuat kebijakan tidak membutuhkan stimulus besar untuk mencapai target PDB lima persen. Menurut pandangan kami, mereka tidak ingin melewatkan target tersebut, tetapi mereka juga tidak ingin melampauinya. Kami memperkirakan penurunan suku bunga 10 basis poin pada akhir tahun,” kata Hu.