BERITA TERKINI
Tiga Agenda yang Diperkirakan Dibidik China dalam KTT Xi Jinping–Donald Trump Mei 2026

Tiga Agenda yang Diperkirakan Dibidik China dalam KTT Xi Jinping–Donald Trump Mei 2026

China diperkirakan mengincar tiga agenda utama dalam Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) antara Presiden Xi Jinping dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang dijadwalkan berlangsung pada 14–15 Mei 2026. Pertemuan ini sempat tertunda akibat perang Iran dan kini dipandang sebagai ruang diplomasi untuk membahas sejumlah isu sensitif.

Sejumlah topik diprediksi akan mendominasi pembicaraan, mulai dari perang dagang, perang Iran, logam tanah jarang, hingga dinamika hubungan China–Rusia. Dalam konteks itu, para analis menilai Beijing akan datang dengan sikap realistis dan pragmatis, mengingat gaya politik Trump yang dinilai sulit diprediksi.

1. Mendorong pemulihan hubungan dan kelanjutan jeda perang dagang

Di balik pernyataan resmi dan basa-basi diplomatik, Beijing disebut mengincar hasil yang kecil tetapi konkret dari kunjungan Trump. China dinilai menginginkan pemulihan hubungan yang lebih luas dengan AS, namun menyadari hal tersebut sulit dicapai dalam waktu dekat.

Hubungan kedua negara masih dibayangi perang dagang, termasuk bea masuk AS atas banyak barang China yang sempat mencapai 145 persen. Ketegangan itu mereda setelah Trump dan Xi menyepakati penghentian sementara perang dagang selama satu tahun pada Oktober 2025.

Menurut para ahli, salah satu tujuan dasar Beijing dalam KTT mendatang adalah memperpanjang kesepakatan jeda tersebut. China juga disebut akan cukup puas bila pertemuan menghasilkan capaian yang pasti, misalnya pengurangan tarif secara terbatas. Hasil semacam itu dapat menjadi pijakan bagi China untuk secara bertahap mengurangi tarif atau pembatasan ekspornya sendiri.

2. Mengelola tekanan terkait perang Iran

Isu perang Iran diperkirakan sulit dihindari dalam KTT Xi–Trump. Meski demikian, para ahli menilai topik ini bukan bidang yang ingin dibahas China secara mendalam.

AS disebut telah meningkatkan tekanan menjelang KTT dengan menargetkan hubungan ekonomi China dengan Teheran. Trump sebelumnya juga memperingatkan akan mengenakan tarif 50 persen pada barang-barang China jika Beijing memberikan bantuan militer kepada Iran.

China merupakan mitra dekat Iran dan menyebut serangan AS-Israel terhadap negara itu sebagai tindakan ilegal. Namun Beijing juga mengkritik serangan Iran terhadap negara-negara Teluk dan menyerukan pembukaan kembali Selat Hormuz.

Para analis menilai China tidak akan menerima tekanan AS untuk mengambil tindakan terhadap Iran atau Rusia. Beijing disebut berupaya menghindari komplikasi tambahan, termasuk kemungkinan tarif baru AS yang dikaitkan dengan perdagangan China bersama Iran, karena hal itu dapat memperumit hubungan kedua negara yang sudah kompleks. Meski perang Iran dinilai menambah tekanan, medan negosiasi utama antara China dan AS tetap berada pada isu perdagangan dan investasi.

3. Memainkan kartu logam tanah jarang

Logam tanah jarang dipandang sebagai salah satu kartu as China dalam negosiasi dengan AS. Komoditas ini penting bagi produksi berbagai barang, mulai dari ponsel pintar hingga mobil listrik. Dominasi China mencakup cadangan, penambangan, pengolahan, hingga inovasi, yang dibangun selama puluhan tahun.

Para analis menilai logam tanah jarang tetap menjadi alat tawar terkuat China bila Beijing membutuhkan konsesi signifikan dari Washington. Trump disebut menunjukkan minat besar terhadap isu ini.

China juga diperkirakan mengincar “kemenangan cepat” menjelang kunjungan Trump, seperti pembelian lebih banyak produk pertanian AS atau jet Boeing. Langkah tersebut dinilai dapat membantu membangun suasana yang lebih positif sebelum pembahasan isu-isu yang lebih kompleks.

Posisi Beijing: percaya diri, tetapi tetap berhati-hati

Dalam beberapa waktu terakhir, China disebut memperkuat posisinya melalui diversifikasi perdagangan ke Asia Tenggara dan negara-negara berkembang, memperkuat hubungan regional, serta mempertajam perangkat hukum dan regulasi. Sejumlah langkah dinilai sudah berjalan bahkan sebelum masa jabatan kedua Trump, termasuk diversifikasi impor energi, dorongan elektrifikasi, dan swasembada teknologi.

Para analis menilai, sekalipun pertemuan berjalan sangat baik, hal itu tidak akan mengubah arah kebijakan China untuk melindungi ekonominya dari pengaruh Amerika. Beijing diperkirakan memasuki pembicaraan dengan rasa percaya diri, tetapi tetap hati-hati, serta dinilai lebih nyaman memainkan strategi jangka panjang dibanding Trump yang menghadapi tekanan pemilihan paruh waktu pada November 2026.

Di sisi lain, rencana kunjungan Presiden Rusia Vladimir Putin ke Beijing juga disebut sedang digodok. Para pengamat menilai rangkaian kunjungan Trump dan Putin dapat membawa pesan politik tersendiri. Namun, mereka menilai pertemuan yang baik dengan Trump tidak serta-merta mengubah dukungan China terhadap Rusia, karena hubungan kedua negara dinilai tetap kokoh.