Pembahasan soal potensi crash besar di pasar keuangan ramai di media sosial setelah sebuah akun X bernama @DeFiTracer mengunggah thread yang mengaitkan hantavirus dengan kemungkinan dampaknya terhadap ekonomi global. Unggahan itu menjadi viral karena membandingkan kondisi Bitcoin (BTC) saat ini dengan fase awal pandemi COVID-19 yang sempat mengguncang pasar beberapa tahun lalu.
Dalam thread tersebut, @DeFiTracer menyebut hantavirus memiliki tingkat kematian lebih tinggi dibanding COVID-19 dan berpotensi memicu panic selling seperti yang terjadi pada 2020. Akun itu menilai dampaknya bisa lebih buruk bila wabah meluas, karena dapat memengaruhi keputusan masyarakat untuk tetap beraktivitas dan bekerja.
“Kali ini bisa jauh lebih buruk. Karena tingkat kematian virus ini sangat tinggi. Pada 2020, dunia berhenti karena orang takut rumah sakit penuh. Pada 2026 dengan hantavirus, orang mungkin akan menolak pergi bekerja,” tulis akun tersebut.
Thread itu juga menggambarkan skenario penurunan pasar yang tajam jika muncul kasus besar di pusat ekonomi utama. Menurut @DeFiTracer, konfirmasi kasus besar bahkan di satu kota besar dapat memicu penurunan pasar 10–15% dalam satu hari perdagangan.
“Jika kasus ini terkonfirmasi bahkan hanya di satu kota besar. Market bisa turun 10-15% hanya dalam satu hari perdagangan. Kapal pesiar mungkin baru permulaan. Hantavirus memiliki masa inkubasi panjang, hingga 40-50 hari,” tulisnya.
Sejumlah sektor disebut berpotensi paling terdampak apabila terjadi kepanikan dan pembatasan aktivitas, mulai dari maskapai penerbangan, hotel, kapal pesiar, hingga saham bertema “reopening economy”. Thread tersebut juga menyinggung kemungkinan gangguan rantai pasok global apabila wabah memengaruhi logistik, pelabuhan, dan manufaktur.
“Maskapai penerbangan, hotel, dan seluruh sektor jasa (ETF seperti JETS atau PEJ) bisa hancur. Investor akan mulai keluar besar-besaran dari saham bertema “reopening economy”,” lanjutnya.
Karena menggunakan narasi yang mengingatkan pada situasi awal pandemi COVID-19, diskusi ini cepat menyebar di kalangan trader dan investor ritel, termasuk yang menyoroti dampaknya terhadap aset berisiko seperti saham dan kripto.
Hantavirus sendiri merupakan kelompok virus yang umumnya menyebar melalui tikus atau rodent yang terinfeksi. Penularannya biasanya terjadi melalui kontak dengan urine, air liur, atau kotoran hewan pembawa virus yang mengering lalu terhirup manusia. Dalam beberapa kasus, hantavirus dapat menyebabkan gangguan pernapasan serius dengan tingkat fatalitas tertentu.
Meski demikian, pola penyebarannya disebut berbeda dengan COVID-19 yang menyebar cepat antar manusia. Hingga saat ini, hantavirus belum dikategorikan sebagai pandemi global seperti COVID-19.
Thread @DeFiTracer juga menyinggung potensi perubahan perilaku investor ketika ketidakpastian meningkat. Akun tersebut menyatakan investor bisa keluar dari aset berisiko dan beralih ke instrumen seperti emas dan uang tunai.
“Investor kehilangan kepercayaan terhadap “keajaiban teknologi” dan mulai lari ke emas serta uang tunai,” tulisnya.
Namun, narasi tersebut muncul di tengah catatan bahwa hingga saat ini belum ada pengumuman darurat pandemi global terkait hantavirus maupun indikasi pembatasan aktivitas ekonomi seperti pada era COVID-19.
Secara keseluruhan, thread viral itu kembali memunculkan diskusi tentang sensitivitas pasar terhadap isu kesehatan global. Meski sejumlah skenario yang disampaikan menyoroti potensi panic selling dan tekanan pada aset berisiko seperti Bitcoin, belum ada indikasi wabah global yang menyerupai pandemi COVID-19.