JAKARTA — Di tengah meningkatnya tekanan terhadap rantai pasok global seiring eskalasi geopolitik di Timur Tengah, PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) menyatakan terus berupaya menjaga stabilitas pasokan bagi industri hilir dan manufaktur nasional. Gangguan di kawasan Selat Hormuz disebut berdampak signifikan terhadap ketersediaan bahan baku utama seperti nafta dan LPG.
LCI menyampaikan telah menempuh berbagai langkah alternatif untuk mengamankan pasokan bahan baku dari sumber lain, guna menjaga keberlangsungan produksi serta memenuhi kebutuhan pelanggan.
Direktur Management Support PT Lotte Chemical Indonesia, Cho Jin-Woo, mengatakan perusahaan memprioritaskan alokasi persediaan produk dan kapasitas produksi yang tersedia saat ini terutama untuk pasar domestik Indonesia. Menurutnya, distribusi pasokan dilakukan secara terukur untuk menjaga stabilitas industri hilir nasional.
“Dalam situasi yang penuh ketidakpastian ini, prioritas utama kami adalah menjaga keberlangsungan pasokan bagi industri dalam negeri. LCI terus mengoptimalkan seluruh sumber daya yang tersedia untuk meminimalkan dampak gangguan terhadap pelanggan, sekaligus mendukung stabilitas sektor manufaktur nasional,” ujar Cho dalam rilis pers, Selasa (8/4/2026).
Seiring upaya tersebut, LCI juga melakukan penyesuaian operasional untuk menjaga keberlanjutan produksi. Cho menyebut LCI masih beroperasi, namun menurunkan tingkat produksi karena rute pengadaan bahan baku diubah akibat hambatan logistik.
“LCI hingga saat ini masih beroperasi namun dengan menurunkan tingkat produksinya, dikarenakan rute pengadaan bahan baku telah diubah akibat hambatan logistik yang ada. Kami mengevalusi setiap hari untuk memastikan situasi terkini yang transparan seiring berkembangnya kondisi,” katanya.
Cho menambahkan, LCI mencari dukungan strategis dari Pemerintah Indonesia dengan mengidentifikasi sejumlah poin yang dinilai memerlukan intervensi. Poin tersebut meliputi penyederhanaan regulasi untuk mempercepat proses impor bahan baku, penerapan bea masuk 0% untuk LPG sebagai bahan baku, serta bantuan fiskal sementara untuk mengimbangi lonjakan biaya dalam krisis rantai pasok global.
Selain itu, LCI juga meminta dukungan untuk mengupayakan jalur keluar yang aman bagi kapal pengangkut bahan baku perusahaan yang saat ini tertahan di Selat Hormuz.
Cho menilai dukungan tersebut penting bukan hanya untuk menghadapi situasi saat ini, tetapi juga bagi ketahanan industri domestik ke depan. “Kami berharap pemerintah dapat membantu memastikan ketersediaan energi dan dukungan kebijakan yang tepat sasaran agar aktivitas produksi kami tetap berlanjut dan memberikan dampak positif bagi program hilirisasi yang dicanangkan pemerintah,” ujarnya.