Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan delegasi Teheran yang berangkat ke Islamabad berjumlah 71 orang. Rombongan tersebut mencakup delegasi negosiasi utama, penasihat ahli, perwakilan media, serta tim diplomatik dan keamanan.
Menurut laporan itu, tim negosiasi dipimpin Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf. Tasnim juga menyebut sejumlah nama yang termasuk dalam jajaran negosiator, yakni Menteri Luar Negeri Abbas Araghchi; Gubernur Bank Sentral Abdolnaser Hemmati; Sekretaris Dewan Pertahanan Nasional Tertinggi Ali Akbar Ahmadian; Wakil Menteri Luar Negeri Kezem Gharibabadi; serta Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei.
Di sisi lain, Douglas Silliman, mantan duta besar Amerika Serikat untuk Kuwait dan Irak, menilai prioritas Presiden Donald Trump dalam pembicaraan terkait Iran adalah mengakhiri pertempuran dan mengurangi tekanan terhadap perekonomian.
“Ia akan mencari tempat di mana ia dapat menyatakan kemenangan dengan relatif cepat, dan saya tidak tahu apakah itu evakuasi uranium yang sangat diperkaya, penghentian pengayaan, atau pembukaan Selat Hormuz yang sebenarnya,” kata Silliman kepada Al Jazeera.
Silliman juga menyebut penghentian lalu lintas melalui Selat Hormuz sebagai “kemenangan strategis terbesar Iran” dalam konflik tersebut, serta menilai situasi itu telah menjadi “risiko besar bagi perekonomian dunia”.
Ia memperkirakan Amerika Serikat akan menawarkan konsesi agar Iran bersedia membuka kembali Selat Hormuz. Namun, menurutnya, hal itu sangat bergantung pada “apa lagi yang bersedia dinegosiasikan Iran”.