BERITA TERKINI
Target Pertumbuhan China Terendah dalam Tiga Dekade, Indonesia Diminta Waspadai Dampak ke Ekspor dan Investasi

Target Pertumbuhan China Terendah dalam Tiga Dekade, Indonesia Diminta Waspadai Dampak ke Ekspor dan Investasi

Pemerintah China menetapkan target pertumbuhan ekonomi pada level terendah dalam tiga dekade terakhir. Langkah ini menjadi sinyal kehati-hatian Beijing di tengah ketidakpastian global dan meningkatnya tensi geopolitik, sekaligus memunculkan kewaspadaan bagi Indonesia yang selama ini memiliki keterkaitan erat dengan perekonomian China.

China merupakan mitra dagang utama Indonesia. Karena itu, perlambatan aktivitas industri di Negeri Tirai Bambu berpotensi langsung menekan permintaan terhadap barang ekspor Indonesia, terutama komoditas mentah dan produk antara. Sektor pertambangan dan perkebunan—yang selama ini menjadi penopang devisa—diperkirakan menghadapi tekanan jika impor China melemah seiring melambatnya kebutuhan industri di negara tersebut.

Laporan CNBC Indonesia Research juga menyoroti bahwa kondisi ini dapat diperburuk oleh dinamika eksternal China yang terjepit isu perdagangan global. Ketika mesin pertumbuhan China melambat, volume perdagangan bilateral yang biasanya tumbuh agresif berpeluang terkoreksi.

Dampak perlambatan tidak hanya berpotensi terasa di perdagangan, tetapi juga pada investasi. Investasi China ke Indonesia masih tergolong signifikan, dengan nilai sekitar 7,5 miliar hingga 8,1 miliar dollar AS dalam beberapa tahun terakhir. Namun, ke depan aliran modal diperkirakan menjadi lebih selektif, seiring kebutuhan investor menjaga stabilitas arus kas di tengah kondisi ekonomi domestik China yang melemah.

Program hilirisasi industri di Indonesia yang selama ini banyak ditopang investor asal China dinilai dapat menghadapi tantangan dari sisi kecepatan ekspansi. Investor diperkirakan akan lebih berhati-hati dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Sejumlah analis menekankan perlunya langkah mitigasi dari pemerintah Indonesia, antara lain melalui diversifikasi pasar ekspor ke negara alternatif serta penguatan konsumsi domestik agar perekonomian tidak terlalu bergantung pada dinamika di Beijing. Dalam laporan tersebut juga muncul peringatan bahwa semakin dalam perlambatan ekonomi China, semakin besar potensi rambatannya terhadap perekonomian Indonesia.

Dengan perkembangan ini, perhatian kini tertuju pada respons kebijakan di Jakarta: apakah Indonesia mampu menjaga momentum pertumbuhan di tengah perlambatan mitra utamanya, atau ikut terseret dalam arus perlambatan global yang kian nyata.