BERITA TERKINI
Survei Jobstreet: 82 Persen Pekerja Indonesia Mengaku Bahagia di Tempat Kerja, Tertinggi di Asia Pasifik

Survei Jobstreet: 82 Persen Pekerja Indonesia Mengaku Bahagia di Tempat Kerja, Tertinggi di Asia Pasifik

Jakarta – Laporan terbaru Jobstreet by Seek bertajuk Workplace Happiness Index menempatkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kebahagiaan pekerja tertinggi di kawasan Asia Pasifik. Dalam survei tersebut, 82 persen responden di Indonesia menyatakan merasa bahagia atau sangat bahagia di tempat kerja.

Laporan ini disusun berdasarkan survei daring yang dilakukan lembaga riset Nature pada Oktober hingga November 2025 terhadap sekitar 1.000 individu di pasar kerja Indonesia berusia 18–64 tahun.

Rincian jawaban responden menunjukkan 37 persen pekerja menyatakan sangat bahagia dan 45 persen bahagia. Sementara itu, 15 persen berada pada posisi netral, 2 persen kurang bahagia, dan 1 persen sangat tidak bahagia.

Angka Indonesia tersebut melampaui sejumlah negara dengan pasar kerja yang dinilai lebih kompetitif, seperti Hong Kong (47 persen), Singapura (56 persen), dan Australia (57 persen). Ketiga negara itu menjadi yang terendah dalam indeks kebahagiaan pekerja di kawasan, yang dalam laporan disebut berkaitan dengan budaya kerja lebih kompetitif dan tekanan biaya hidup.

Adapun negara lain yang disurvei mencatat tingkat kebahagiaan pekerja sebagai berikut: New Zealand 65 persen, Thailand 67 persen, Malaysia 70 persen, dan Filipina 77 persen.

Meski 54 persen pekerja masih menjadikan gaji yang lebih tinggi sebagai keinginan utama, laporan ini mencatat pendorong kebahagiaan yang lebih menonjol adalah keseimbangan kehidupan kerja (work-life balance) dan tujuan kerja (purpose).

Sejumlah elemen yang paling membuat pekerja Indonesia bahagia meliputi rekan kerja atau tim (77 persen), lokasi tempat kerja (76 persen), tujuan kerja atau perasaan bahwa pekerjaan bermakna (75 persen), komitmen pada ESG (75 persen), serta work-life balance (74 persen).

Dari sisi sektor, pekerja di industri teknologi tercatat sebagai yang paling bahagia dengan 93 persen responden menyatakan bahagia. Posisi berikutnya ditempati sektor manufaktur (87 persen) serta kelompok admin, layanan pelanggan, dan penjualan (82 persen).

Namun, laporan juga mencatat adanya kekhawatiran terkait kecerdasan buatan (AI) di sektor teknologi. Sebanyak 54 persen pekerja teknologi menyatakan khawatir pekerjaannya berisiko hilang akibat AI, lebih tinggi dibandingkan pekerja di luar sektor teknologi yang sebesar 42 persen.

Acting Managing Director Jobstreet Indonesia, Wisnu Dharmawan, menilai tingginya kebahagiaan pekerja di sektor teknologi kemungkinan dipengaruhi budaya fleksibilitas kerja yang lebih besar, termasuk skema work from home atau work from anywhere, yang berkontribusi pada work-life balance.

“Berkaitan dengan teknologi, ya memang kaitannya yang paling happy kalau sudah di teknologi ada work-life balance mungkin gitu ya. Itu mungkin kombinasi (elemen) yang paling komplit,” ujar Wisnu dalam media briefing peluncuran laporan Workplace Happiness Index di Jakarta, Selasa, 3 Februari 2026.

Wisnu menambahkan, survei ini menggambarkan tren lintas fungsi atau industri dan tidak secara spesifik menyasar sub-sektor tertentu. Ia juga mengingatkan bahwa kondisi work-life balance di perusahaan teknologi dapat bervariasi.

“Jadi, memang perusahaan teknologi sendiri juga macam-macam ya. Ada yang work-life balance, ada yang tidak. Kalau misalnya perusahaan teknologi tapi misalnya work-life balance-nya sangat buruk, ya bisa jadi tidak bahagia juga,” kata Wisnu.