BERITA TERKINI
Survei GoodStats: Publik Indonesia Cemas Konflik Iran dengan AS dan Israel, Khawatir Dampak Ekonomi

Survei GoodStats: Publik Indonesia Cemas Konflik Iran dengan AS dan Israel, Khawatir Dampak Ekonomi

Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kembali menyita perhatian seiring meningkatnya konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Eskalasi yang melibatkan kekuatan militer serta kepentingan politik global itu tidak hanya berdampak pada kawasan, tetapi juga memunculkan respons dan kekhawatiran di berbagai negara, termasuk Indonesia.

GoodStats bersama Digivla merilis hasil survei yang memotret persepsi publik Indonesia terkait konflik Iran dengan AS dan Israel. Survei tersebut menggali tingkat perhatian masyarakat, emosi yang muncul, potensi dampak terhadap Indonesia, hingga harapan publik mengenai sikap pemerintah.

Tingkat perhatian publik

Hasil survei menunjukkan sekitar 6 dari 10 responden mengikuti perkembangan konflik dengan tingkat perhatian yang relatif tinggi. Rinciannya, 49% responden mengaku cukup mengikuti, sementara 14% menyatakan sangat mengikuti secara rutin.

Managing Editor GoodStats, Iip M. Aditiya, menyebut hanya sedikit responden yang tidak mengetahui isu tersebut. “Jadi walaupun ini konflik global dan gak terjadi di Indonesia, isu ini masih ada dalam radar perhatian publik, meski memang gak semua mengikuti dengan rutin,” ujarnya, Kamis (12/3/2026).

Dalam hal sumber informasi, media sosial menjadi rujukan utama responden karena dinilai cepat menyebarkan pembaruan dan mudah diakses. Selain itu, responden juga banyak mengandalkan media online nasional maupun internasional, mencerminkan pergeseran konsumsi informasi ke kanal digital.

Emosi dominan: cemas dan khawatir

Survei mencatat rasa cemas dan khawatir sebagai emosi yang paling banyak dirasakan publik, yakni 42,31%. Kekhawatiran tersebut berkaitan dengan potensi eskalasi yang lebih besar jika ketegangan terus berkembang menjadi konflik berskala lebih luas.

Selain cemas, sebagian responden juga mengaku marah terhadap situasi yang dinilai berpotensi menimbulkan korban sipil dan krisis kemanusiaan. Iip menambahkan emosi sedih juga cukup menonjol dan berkaitan dengan empati terhadap masyarakat sipil yang terdampak. Di sisi lain, 10,7% responden menyatakan bersikap netral atau biasa saja karena menilai konflik terjadi jauh dari Indonesia dan tidak dirasakan secara langsung.

Sejalan dengan itu, tingkat kekhawatiran terhadap kemungkinan meluasnya konflik juga tergolong tinggi. Sebanyak 33,82% responden memilih skala 4, 30,56% memilih skala 5, dan 19,35% menyatakan sangat khawatir.

Kekhawatiran dampak ke Indonesia: energi dan kebutuhan domestik

Hampir 9 dari 10 responden meyakini konflik berpotensi membawa dampak signifikan bagi Indonesia. Kekhawatiran terbesar mengarah pada aspek ekonomi dan kebutuhan domestik.

Harga energi dan BBM menjadi perhatian utama, dipilih oleh 34,8% responden. Iip mengaitkan kekhawatiran ini dengan penutupan Selat Hormuz yang dapat mengganggu perdagangan minyak internasional, serta adanya pernyataan bahwa stok BBM nasional hanya cukup untuk 20 hari.

Selain energi, responden juga menyoroti potensi dampak pada harga kebutuhan pokok, stabilitas ekonomi, dan keamanan nasional.

Harapan terhadap sikap Indonesia

Terkait posisi Indonesia, 40,71% responden mendorong Indonesia aktif memperjuangkan perdamaian, mencerminkan harapan agar pemerintah berperan dalam diplomasi dan penyelesaian konflik secara damai.

Di sisi lain, 23,96% responden berharap Indonesia lebih fokus pada keperluan dalam negeri. Sikap ini sejalan dengan kekhawatiran publik bahwa eskalasi konflik dapat berdampak besar pada kondisi domestik, terutama ekonomi.

Selain itu, 23,41% responden menginginkan Indonesia lebih aktif mendorong diplomasi dan perdamaian melalui forum internasional. Menurut Iip, temuan tersebut menunjukkan harapan agar Indonesia tidak bersikap pasif dan tetap berkontribusi meredakan konflik melalui jalur diplomasi.

Metodologi survei

Survei GoodStats bertajuk Persepsi Publik Indonesia terhadap Perang Amerika - Israel dan Iran dilakukan pada 8–11 Maret 2026 dengan melibatkan 540 responden. Komposisi responden didominasi Gen Z (86%) dan perempuan (57%). Dari sisi pendidikan, mayoritas responden berpendidikan terakhir SMA/sederajat (49%) serta Diploma/S1 (46%).