Gejolak konflik berkepanjangan di Timur Tengah mulai memunculkan dampak ke berbagai negara, termasuk Indonesia. Bagi Jawa Timur, salah satu penggerak utama ekonomi nasional, situasi ini menjadi sinyal untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama terkait potensi tekanan pada sektor energi, industri, dan perdagangan global.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Jawa Timur, Ibrahim, mengatakan dampak konflik tidak selalu terasa secara langsung. Menurutnya, pengaruhnya kerap merambat melalui berbagai jalur ekonomi, mulai dari kondisi normal hingga skenario ekstrem atau tail risk yang peluangnya kecil tetapi berdampak besar. Pernyataan itu disampaikan dalam kegiatan Jatim Talk Road to East Java Economic Forum (EJAVEC) 2026 di Surabaya, Rabu (1/4).
Ibrahim menilai tekanan paling nyata muncul dari jalur komoditas energi. Kawasan Timur Tengah memiliki peran strategis dalam pasokan energi dunia, termasuk melalui Selat Hormuz yang dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak global. Saat konflik memanas, harga minyak terdorong naik dan sempat menembus di atas US$100 per barel.
Kenaikan harga energi tersebut berpotensi menimbulkan efek berantai ke berbagai sektor industri. Produk turunan gas seperti amonia, yang menjadi bahan baku utama pupuk, plastik, dan industri kimia, ikut terdorong naik. Bagi Jawa Timur yang memiliki basis industri dan UMKM besar, kondisi ini dinilai dapat meningkatkan biaya produksi dan menekan margin usaha.
Meski begitu, Ibrahim menyebut situasi saat ini belum mengarah pada krisis pasokan. Diversifikasi sumber impor membuat ketersediaan bahan baku relatif aman, meskipun tekanan harga tetap terjadi.
Selain energi, risiko juga datang dari sisi perdagangan global. Konflik geopolitik dapat mendorong negara-negara bersikap lebih protektif, termasuk membatasi ekspor untuk menjaga kebutuhan domestik. Kondisi ini berpotensi mengganggu arus perdagangan internasional dan menekan kinerja ekspor daerah.
Di tengah tekanan eksternal, struktur ekonomi Jawa Timur dinilai cukup tangguh. Konsumsi rumah tangga yang berkontribusi sekitar 60 persen terhadap PDRB disebut menjadi bantalan utama dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Kekuatan sektor pangan juga menjadi modal penting. Jawa Timur sebagai salah satu lumbung pangan nasional memiliki kontribusi besar pada komoditas strategis seperti daging ayam, telur, jagung, dan cabai. Ketahanan ini dinilai dapat membantu meredam gejolak harga dan menjaga stabilitas pasokan dalam negeri.
Namun, risiko jangka panjang tetap perlu diantisipasi. Jika konflik berlangsung lama, kenaikan biaya produksi dapat menekan pendapatan korporasi, berdampak pada sektor perbankan, dan pada akhirnya menurunkan daya beli masyarakat.
Untuk menghadapi berbagai kemungkinan, sejumlah langkah dinilai perlu diperkuat, antara lain menjaga stabilitas inflasi, memperluas sumber bahan baku industri, memperkuat diplomasi perdagangan, serta memastikan distribusi barang tetap lancar guna menjaga daya beli masyarakat.
BI bersama otoritas terkait juga menyiapkan langkah mitigasi, mulai dari menjaga stabilitas nilai tukar, memastikan likuiditas perbankan, hingga mendorong digitalisasi ekonomi.
Belajar dari konflik global sebelumnya, kemampuan adaptasi disebut menjadi kunci. Dengan fondasi ekonomi yang relatif kuat, Jawa Timur dinilai masih memiliki ruang untuk bertahan, bahkan tumbuh, di tengah ketidakpastian global. Meski demikian, kewaspadaan tetap menjadi perhatian utama mengingat dinamika geopolitik yang sulit diprediksi.

