Pasar suplemen makanan dan produk nutrisi di kawasan Asia Pasifik menunjukkan perubahan tren dalam beberapa tahun terakhir. Jika sebelumnya keputusan membeli lebih banyak didorong manfaat kesehatan fisik, kini faktor emosional—seperti rasa aman dan keinginan memiliki kendali atas kesehatan—ikut memengaruhi pilihan konsumen.
Gambaran tersebut muncul dalam riset global yang dirilis Tetra Pak pada Maret 2026. Studi itu memproyeksikan pasar Food Supplements and Nutrition (FSN) secara global mencapai sekitar USD 758,99 miliar pada 2034, dengan pertumbuhan tahunan sekitar 7 persen.
Meski faktor emosional semakin menonjol, manfaat kesehatan tetap menjadi pendorong utama konsumsi suplemen. Di Asia Pasifik, sekitar 62 persen konsumen memprioritaskan dukungan terhadap kesehatan fisik saat memilih produk nutrisi tambahan. Selain itu, 61 persen konsumen menggunakan suplemen untuk memastikan kebutuhan nutrisi harian terpenuhi, sementara 48 persen lainnya mencari produk yang dapat membantu menjaga tingkat energi di tengah aktivitas harian yang padat.
Riset yang dilakukan bersama Ipsos tersebut juga mencatat alasan konsumsi produk nutrisi yang semakin beragam. Secara global, 42 persen konsumen mengaku mengonsumsi produk nutrisi karena ingin merasa lebih memiliki kendali terhadap kesehatan mereka. Sebanyak 39 persen konsumen mencari rasa aman bahwa kebutuhan nutrisi terpenuhi, sedangkan 30 persen lainnya ingin merasa lebih seimbang atau mengurangi stres.
Temuan ini mengindikasikan produk nutrisi tidak lagi dipandang semata sebagai solusi kesehatan fisik, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga kesejahteraan mental dan emosional.
Tren serupa terlihat di Indonesia yang disebut sebagai salah satu pasar suplemen paling dinamis di Asia Pasifik. Nilai pasar suplemen makanan di Indonesia diperkirakan mencapai USD 2,53 miliar pada 2024 dan diproyeksikan hampir dua kali lipat menjadi sekitar USD 4,86 miliar pada 2030.
Menurut riset tersebut, pertumbuhan pasar didorong oleh meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, naiknya pendapatan yang dapat dibelanjakan, serta pergeseran menuju pola nutrisi preventif. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung, permintaan produk nutrisi dilaporkan terus meningkat seiring gaya hidup perkotaan yang semakin padat. Konsumen, terutama milenial dan Gen Z, cenderung mencari solusi kesehatan yang praktis dan mudah diakses melalui e-commerce maupun platform kesehatan digital.
Studi itu juga menyoroti perubahan preferensi terhadap format produk. Sekitar 59 persen konsumen menyatakan tertarik pada suplemen dalam bentuk minuman siap konsumsi (ready-to-drink). Format ini dinilai praktis karena tidak memerlukan persiapan tambahan, mudah disimpan, dan sesuai dengan gaya hidup aktif. Selain itu, sekitar 21 persen konsumen mengaku menghargai kepraktisan saat beraktivitas di luar rumah, sementara 19 persen memilih produk nutrisi untuk menghemat waktu menyiapkan makanan atau camilan.
Marketing Director Tetra Pak untuk Malaysia, Singapura, Filipina, dan Indonesia, John Jose, mengatakan kepraktisan tetap menjadi ekspektasi dasar konsumen. Namun, menurutnya, daya tarik produk nutrisi kini melampaui sekadar kemudahan. “Dengan 62 persen konsumen memprioritaskan kesehatan fisik dan 61 persen menggunakan produk ini untuk memastikan kebutuhan nutrisi harian terpenuhi, terlihat adanya pergeseran menuju produk berbasis nilai yang mendukung kesejahteraan jangka panjang,” ujarnya.
Di sisi lain, industri suplemen masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari sensitivitas harga hingga tingkat kepercayaan konsumen terhadap bahan dan klaim produk. Karena itu, pelabelan yang jelas, transparansi bahan, serta kemasan yang praktis dinilai penting untuk membangun kepercayaan. Di Indonesia, produk makanan dan minuman yang difortifikasi juga harus memenuhi regulasi ketat, termasuk proses pendaftaran produk serta pengungkapan komposisi bahan secara lengkap.

