Sebuah studi terbaru di jurnal Environmental Research Letters menilai populasi manusia saat ini telah menuntut sumber daya melampaui kemampuan Bumi untuk menopangnya secara berkelanjutan. Kajian yang menganalisis data populasi selama lebih dari dua abad itu menyimpulkan manusia kini hidup jauh melewati batas daya dukung planet.
Studi tersebut dipimpin Corey Bradshaw dari Flinders University. Dalam ilmu ekologi, kemampuan suatu lingkungan untuk menopang populasi spesies dikenal sebagai carrying capacity atau daya dukung, yakni jumlah maksimum individu yang dapat bertahan hidup dalam jangka panjang berdasarkan ketersediaan sumber daya dan kemampuan alam untuk memulihkan diri.
Menurut peneliti, manusia dinilai sangat piawai mendorong batas daya dukung, terutama melalui pemanfaatan teknologi. Salah satu faktor yang disebut berperan besar adalah penggunaan bahan bakar fosil untuk mengatasi keterbatasan alam.
Studi itu juga menyinggung asal-usul istilah carrying capacity yang pertama kali digunakan di industri pelayaran pada akhir abad ke-19 untuk menghitung kapasitas muatan kapal berbahan bakar batu bara, tanpa mengorbankan kebutuhan bahan bakar dan awak kapal.
Peralihan ke bahan bakar fosil disebut mendorong lonjakan populasi global pada abad ke-20. Saat ini, populasi dunia diperkirakan mencapai sekitar 8,3 miliar jiwa. Tim peneliti menilai ekonomi modern yang bergantung pada pertumbuhan tanpa henti cenderung mengabaikan batas regenerasi alam, karena bahan bakar fosil secara artifisial menutup kekurangan tersebut.
Melalui model pertumbuhan ekologi, peneliti menghitung dua jenis batas populasi. Pertama, batas maksimum, yaitu jumlah absolut yang masih bisa ditampung meski berisiko memicu kelaparan, penyakit, dan konflik. Kedua, batas optimal, yakni jumlah populasi yang dapat hidup secara berkelanjutan dengan standar hidup yang layak.
Hasil perhitungan menunjukkan populasi optimal manusia diperkirakan sekitar 2,5 miliar jiwa, jauh di bawah jumlah saat ini. “Bumi tidak mampu mengikuti cara kita menggunakan sumber daya. Bahkan untuk memenuhi kebutuhan saat ini saja sudah tidak cukup tanpa perubahan besar,” kata Bradshaw.
Penelitian itu juga mencatat laju pertumbuhan populasi yang sempat meningkat tajam sebelum 1950-an mulai melambat sejak 1960-an. Namun, jumlah populasi tetap terus bertambah. Fenomena tersebut disebut sebagai “fase demografis negatif”, ketika penambahan populasi tidak lagi sejalan dengan peningkatan pertumbuhan.
Jika tren saat ini berlanjut, populasi global diperkirakan mencapai puncak antara 11,7 hingga 12,4 miliar jiwa pada akhir 2060-an atau 2070-an. Kesenjangan antara populasi saat ini dan kapasitas optimal diyakini menjadi salah satu faktor yang memperbesar berbagai krisis global, termasuk konsumsi berlebihan dan tekanan terhadap sumber daya alam.
Dalam konteks tekanan sumber daya, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) disebut menyatakan dunia kini berada dalam kondisi krisis air. Populasi hewan juga terus menurun karena kalah bersaing dengan manusia dalam memperebutkan sumber daya.
Di sisi lain, ketergantungan pada bahan bakar fosil untuk menopang kebutuhan manusia dinilai memperparah perubahan iklim, yang kemudian merusak ekosistem dan sumber daya alam di berbagai wilayah. Studi tersebut menyimpulkan peningkatan populasi memiliki pengaruh lebih besar terhadap perubahan suhu global, jejak ekologis, dan emisi dibandingkan peningkatan konsumsi per individu.
“Sistem penopang kehidupan di Bumi sudah berada di bawah tekanan. Tanpa perubahan cepat dalam penggunaan energi, lahan, dan pangan, miliaran orang akan menghadapi ketidakstabilan,” ujar Bradshaw.
Meski menggambarkan situasi yang mengkhawatirkan, peneliti menekankan peluang untuk memperbaiki keadaan masih ada. Namun, hal itu dinilai membutuhkan perubahan besar dalam cara manusia mengelola sumber daya, mulai dari penggunaan lahan, air, energi, hingga keanekaragaman hayati. “Populasi yang lebih kecil dengan tingkat konsumsi lebih rendah akan menghasilkan hasil yang lebih baik bagi manusia dan planet,” kata Bradshaw.
Peneliti juga mengingatkan model yang digunakan memiliki keterbatasan, karena banyak faktor sulit diprediksi secara akurat dalam skala global. Selain itu, konsep daya dukung memunculkan dilema etika, mengingat tidak semua manusia memiliki akses dan tingkat konsumsi yang sama, sementara pembahasan pengendalian populasi kerap sensitif serta berpotensi menimbulkan diskriminasi. Peneliti menulis, “Tragedinya adalah manusia telah memotong mekanisme alami yang seharusnya mengendalikan populasi, tanpa menggantinya dengan sistem yang manusiawi dan ramah lingkungan.”