BERITA TERKINI
Studi: Latar Pendidikan CEO Paling Konsisten Pengaruhi Pelaporan Keberlanjutan Perusahaan di Indonesia

Studi: Latar Pendidikan CEO Paling Konsisten Pengaruhi Pelaporan Keberlanjutan Perusahaan di Indonesia

Sebuah penelitian mengkaji bagaimana karakteristik CEO memengaruhi keputusan perusahaan di Indonesia dalam menerbitkan laporan keberlanjutan (sustainability report/SR) secara terpisah serta menggunakan jasa assurance untuk meningkatkan keandalan laporan. Kajian ini ditempatkan dalam konteks komitmen Indonesia terhadap Sustainable Development Goals (SDGs) dan target pengurangan emisi karbon pada 2030, yang mendorong sektor swasta meningkatkan tanggung jawab lingkungan dan sosial.

Penelitian menggunakan desain deskriptif dengan data perusahaan publik di Bursa Efek Indonesia (BEI) selama periode 2015–2018. Data yang disajikan mencakup profil CEO—termasuk usia, masa jabatan (tenure), dan latar belakang pendidikan—serta tren praktik pelaporan keberlanjutan pada periode tersebut.

Analisis penelitian ini merujuk pada dua kerangka teori. Pertama, Upper Echelons Theory yang menekankan bahwa keputusan manajerial dipengaruhi karakter eksekutif puncak. Kedua, Institutional Logic Theory yang melihat bahwa CEO juga dapat menyesuaikan keputusan dengan norma, tekanan, dan harapan sosial maupun institusional di lingkungan bisnis tempat perusahaan beroperasi.

Hasil penelitian menunjukkan latar belakang pendidikan CEO menjadi faktor yang paling berpengaruh dan konsisten dalam mendorong perusahaan menerbitkan SR terpisah sekaligus memakai assurance. CEO dengan latar pendidikan akuntansi, keuangan, atau teknik dinilai lebih cenderung menunjukkan komitmen pada pelaporan ESG karena memahami manfaat strategis dan kredibilitas yang dapat diperoleh dari laporan keberlanjutan. Temuan ini dinyatakan selaras dengan Upper Echelons Theory.

Sementara itu, pengaruh usia dan masa jabatan CEO dinilai lebih kompleks. Meski Upper Echelons Theory sering mengaitkan CEO yang lebih tua dan berpengalaman dengan kecenderungan mempertahankan status quo, data dalam studi ini menunjukkan sebagian CEO senior justru mengambil pendekatan yang lebih inovatif. Pola tersebut dipandang sejalan dengan Institutional Logic Theory, yakni ketika CEO menyesuaikan diri dengan harapan kebijakan publik dan norma keberlanjutan yang berkembang.

Penelitian juga mencatat bahwa hanya sebagian perusahaan di Indonesia yang menerbitkan laporan keberlanjutan secara terpisah dan menggunakan assurance. Mayoritas perusahaan disebut lebih sering melampirkan informasi keberlanjutan dalam laporan tahunan. Studi ini mengamati bahwa pilihan tersebut kemungkinan berkaitan dengan nilai perusahaan, namun temuan terkait hubungan itu disajikan dalam tabel deskriptif dan tidak dilanjutkan dengan analisis inferensial yang mendalam.

Dari sisi implikasi, penelitian menilai pengamatan terhadap karakter CEO dapat menjadi indikator untuk membaca keseriusan perusahaan dalam menjalankan strategi keberlanjutan dan mendukung pencapaian SDGs nasional. Secara teoretis, studi ini menyimpulkan bahwa pemahaman atas keputusan pelaporan keberlanjutan di Indonesia tidak cukup dijelaskan oleh Upper Echelons Theory semata, karena Institutional Logic juga berperan ketika perusahaan menghadapi tekanan dan ekspektasi eksternal.

Kesimpulannya, penelitian menegaskan latar belakang pendidikan CEO merupakan faktor yang paling konsisten memengaruhi keputusan pelaporan keberlanjutan. Adapun usia dan masa jabatan CEO cenderung mengikuti logika institusional, bukan semata pola tradisional yang diasumsikan dalam teori eksekutif. Temuan ini disebut dapat menjadi pertimbangan bagi regulator dan investor dalam menilai komitmen ESG perusahaan melalui profil kepemimpinannya.