BERITA TERKINI
Strategi PT Mitra Saruta Indonesia Bertahan di Tengah Ketidakpastian Global

Strategi PT Mitra Saruta Indonesia Bertahan di Tengah Ketidakpastian Global

SURABAYA — Presiden Direktur PT Mitra Saruta Indonesia (MSI) Hoo Yanto Andrian membeberkan sejumlah strategi yang membuat perusahaan tekstilnya tetap bertahan di tengah ketidakpastian global. MSI merupakan perusahaan tekstil yang memproduksi sarung tangan, kaos kaki, serta berbagai produk tekstil lain. Perusahaan ini mengoperasikan pabrik di Nganjuk, Jawa Timur, dan menjadi salah satu mitra Lembaga Penjamin Ekspor Indonesia (LPEI) atau EximBank.

Menurut Yanto, pengalaman panjang di pasar ekspor membuat perusahaannya lebih siap menghadapi situasi yang berulang. Ia menyebut MSI telah lebih dari 30 tahun melakukan ekspor, sehingga dinamika global saat ini bukan hal baru. Salah satu faktor yang membuat dampaknya tidak terlalu signifikan, kata dia, adalah pasar ekspor MSI yang cukup beragam.

“Kita ini sudah lebih dari 30 tahun ekspor. Jadi kondisi yang sekarang itu kita alami sebelum-sebelumnya. Jadi, sudah terbiasa katakan seperti itu. Nah, kenapa efek daripada situasi-situasi yang kita alami sekarang ini tidak berdampak begitu signifikan? Karena market kita cukup diverse,” ujar Yanto saat berkunjung ke pabrik PT Mitra Saruta di Nganjuk, Kamis (16/4/2026).

Perluas pasar ekspor

Yanto menjelaskan, pasar utama ekspor MSI selama ini adalah Jepang dan Amerika Serikat. Namun, perusahaan juga menjalankan strategi yang lebih agresif untuk membuka pasar baru di luar negeri.

Perusahaan dengan sekitar 1.700 karyawan tersebut belakangan menyasar sejumlah negara di Afrika dan Eropa. Yanto menyebut ekspor telah dilakukan ke Afrika Selatan, serta menjangkau Tunisia dan Mesir. Di Eropa, beberapa negara yang disebut sebagai pasar tradisional—seperti Portugal dan Spanyol—masih berjalan secara berkelanjutan.

“Kita semuanya tahu bahwa di Afrika sendiri itu negara-negara Afrika pada tahap sekarang itu mereka juga sudah mulai develop. Jadi, South Africa kita sudah ekspor, Tunisia, Egypt itu cukup lama sebenarnya, beberapa negara Eropa yang istilahnya market tradisional kita termasuk Portugal, Spain dan sebagainya itu masih kontinu,” tutur Yanto.

Bahan baku tidak bergantung impor

Selain diversifikasi pasar, MSI juga menekan risiko dari sisi pasokan bahan baku. Yanto mengatakan perusahaan tidak bergantung pada benang impor untuk produksi, termasuk untuk produk utama seperti sarung tangan.

Ia menjelaskan benang yang diproses melalui pemintalan (spinning) sebagian besar berasal dari material daur ulang. “Sedikit saya ceritakan background daripada industri kita yang agak unik ini. Jadi, kalau benang kita yang kita proses atau spinning kita itu 95 persen kita menggunakan material daur ulang,” kata Yanto.

Menurutnya, limbah tekstil yang diolah kembali itu diperoleh dari para pengepul maupun industri kecil di sekitar pabrik MSI.

Pernah terdampak saat pandemi

Yanto juga menyinggung pengalaman saat pandemi COVID-19 enam tahun lalu. Ia mengatakan, pada awal pandemi bisnis MSI sempat tersendat. Dalam 2–3 bulan pertama, penurunan bisnis disebut mencapai sekitar 50 persen.

Namun, ia menyatakan pemulihan berjalan relatif cepat. Setelah memasuki bulan keempat, kinerja disebut meningkat ke level 80 persen hingga 90 persen, dan pemulihan tersebut tidak memakan waktu lebih dari satu tahun.

“Tapi, setelah bulan keempat kita sudah menanjak 80 persen dan 90 persen itu tidak lebih dari satu tahun. Jadi, recovery rate kita terhadap resiko-resiko tersebut cukup bagus. Nah, kenapa itu bisa terjadi? Karena mungkin dari seperti saya katakan adalah produk alternatif yang kita punya,” ujar Yanto.