Kekhawatiran mengenai kemungkinan krisis global kembali menguat seiring memburuknya kondisi ekonomi dan geopolitik internasional. Dalam situasi yang ditandai tensi geopolitik—termasuk perang antara AS, Israel, dan Iran—sejumlah pengamat ekonomi menilai risiko resesi global dapat meningkat. Menyikapi hal tersebut, kewaspadaan dan kesiapan dinilai penting, baik bagi individu maupun pelaku bisnis.
Memasuki 2026, Indonesia disebut masih menunjukkan ketahanan ekonomi yang relatif solid dan kerap dipandang sebagai “anomali global”. Meski demikian, antisipasi tetap diperlukan karena krisis global umumnya dipicu kombinasi berbagai faktor, mulai dari ketegangan geopolitik, inflasi yang persisten, hingga dampak perubahan iklim yang semakin membebani ekonomi riil.
Dari sisi keuangan pribadi, strategi utama yang ditekankan adalah membangun “benteng pertahanan” melalui penguatan likuiditas dan pengendalian risiko. Likuiditas dipandang sebagai kunci agar kebutuhan dasar tetap terpenuhi di tengah ketidakpastian.
Salah satu langkah yang disarankan adalah memperkuat dana darurat. Jika pada kondisi normal dana darurat umumnya direkomendasikan sebesar 3–6 kali pengeluaran bulanan, dalam situasi ancaman krisis targetnya dapat ditingkatkan hingga 12 kali pengeluaran. Dana ini disarankan ditempatkan pada instrumen yang sangat likuid, seperti reksa dana pasar uang atau deposito.
Selain itu, diversifikasi aset juga menjadi perhatian agar risiko tidak terkonsentrasi pada satu instrumen. Emas disebut kerap menjadi pilihan karena berfungsi sebagai aset lindung nilai (safe-haven), sementara obligasi negara dinilai menawarkan imbal hasil yang lebih stabil dengan risiko gagal bayar yang sangat rendah.
Langkah lain yang dinilai penting adalah mengurangi beban utang konsumtif, terutama utang berbunga mengambang (floating rate) seperti kartu kredit. Dalam situasi krisis, suku bunga berpotensi naik sebagai respons untuk menahan inflasi, sehingga beban cicilan dapat meningkat.
Bagi pelaku usaha, krisis dipandang bukan hanya ancaman, tetapi juga fase “seleksi alam” yang menguji ketahanan perusahaan. Dalam kondisi tersebut, bisnis yang lincah dan efisien dinilai memiliki peluang lebih besar untuk bertahan.

