Perusahaan asuransi di kawasan Asia Pasifik dinilai masih memiliki modal yang memadai untuk menghadapi tekanan yang muncul akibat konflik di Timur Tengah. Penilaian tersebut disampaikan S&P Global Ratings dalam laporan terbarunya.
Dalam skenario dasar, S&P menilai dampak konflik saat ini belum terlalu mengganggu kondisi keuangan perusahaan asuransi. Namun, lembaga pemeringkat itu mengingatkan bahwa ketidakpastian geopolitik serta perubahan kebijakan perdagangan berpotensi memicu gejolak pasar keuangan yang pada akhirnya dapat mengurangi kekuatan permodalan perusahaan.
Analis S&P, Philip Chung, menyebut gangguan rantai pasok dan meningkatnya ketegangan geopolitik dapat mendorong kenaikan harga barang, memperlambat pertumbuhan ekonomi, serta membuat pasar keuangan lebih tidak stabil. Selain itu, perbedaan suku bunga dan risiko nilai tukar juga dinilai dapat memengaruhi kondisi keuangan perusahaan asuransi.
S&P menilai perlambatan ekonomi dan penurunan kemampuan belanja masyarakat berpotensi menekan permintaan asuransi, baik dari individu maupun pelaku usaha. Kondisi tersebut dapat berdampak pada pendapatan dan keuntungan perusahaan asuransi.
Di luar faktor geopolitik, S&P juga menyoroti risiko lain, termasuk perubahan iklim yang dapat membuat sebagian wilayah menjadi tidak lagi dapat diasuransikan.
Sementara investasi perusahaan asuransi di kredit swasta disebut masih terbatas, tekanan di pasar global tetap berpotensi menular ke kawasan Asia Pasifik. Adapun kenaikan biaya kesehatan dinilai masih dapat diatasi melalui penyesuaian harga premi.
Meski demikian, situasi ini diperkirakan menguji kemampuan perusahaan dalam mengelola risiko dan menjaga kekuatan modal, terutama bagi perusahaan yang memiliki investasi luar negeri tanpa perlindungan nilai tukar. Gejolak pasar keuangan juga diproyeksikan dapat menekan kinerja keuntungan.
Untuk perusahaan asuransi di Jepang, S&P memperkirakan mereka dapat memanfaatkan keuntungan dari penjualan saham domestik serta cadangan yang dimiliki untuk menjaga stabilitas laba, di tengah potensi kerugian dari penjualan obligasi.
Ke depan, tekanan terhadap keuntungan diperkirakan meningkat. Upaya mencari imbal hasil yang lebih tinggi dapat mendorong perusahaan memasuki investasi yang lebih berisiko. Selain itu, kenaikan biaya kesehatan dapat membuat premi menjadi lebih mahal.
Gangguan rantai pasok juga dinilai dapat meningkatkan biaya operasional dan klaim. Jika penyesuaian harga tidak sejalan dengan kenaikan klaim, maka keuntungan dari kegiatan penjaminan asuransi berpotensi menurun.

