Dinamika ekonomi global pada 5 Maret 2026 dibayangi meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang memicu kekhawatiran baru terhadap inflasi, pertumbuhan, dan stabilitas pasar. Sejumlah perkembangan lain turut menjadi perhatian, mulai dari kebijakan penguatan perbankan di China, arah regulasi kripto di Amerika Serikat, hingga strategi industri semikonduktor di Prancis dan keputusan bisnis Nvidia.
Dana Moneter Internasional (IMF) memperingatkan ketahanan ekonomi global kembali diuji setelah pecahnya perang baru di Timur Tengah. Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, yang berbicara pada 5 Maret di konferensi “Asia 2050” di Bangkok, menekankan bahwa konflik berkepanjangan akan berdampak jelas terhadap harga energi, sentimen pasar, pertumbuhan ekonomi, dan inflasi. Menurutnya, kondisi ini sekaligus menambah tekanan bagi para pembuat kebijakan di berbagai negara.
Di Amerika Serikat, pembahasan RUU kripto penting yang dikenal sebagai Clarity Act dilaporkan kembali menemui jalan buntu. Negosiasi tersendat setelah bank-bank menyatakan tidak akan mendukung kompromi yang diusulkan Gedung Putih. Situasi ini memunculkan keraguan apakah RUU tersebut dapat disahkan tahun ini, serta memicu kritik dari Presiden Donald Trump.
Dari Asia, pemerintah China berencana menerbitkan obligasi pemerintah khusus senilai 300 miliar yuan (sekitar US$44 miliar) tahun ini. Dana tersebut ditujukan untuk menambah modal inti Tier 1 bagi bank-bank komersial besar, sebagai bagian dari langkah memperkuat sistem keuangan China yang bernilai US$69 triliun. Kebijakan ini muncul di tengah perlambatan ekonomi dan pasar yang bergejolak.
Di Eropa, Prancis meluncurkan program baru untuk mendukung bisnis desain chip “tanpa pabrik” (fabless). Program bernama Asteerics ini diluncurkan pada Juli 2025 dan secara resmi diperkenalkan di Paris pada akhir Januari 2026. Inisiatif yang terkait dengan Undang-Undang Chip Uni Eropa tersebut bertujuan membangun pusat kapasitas nasional guna membantu perusahaan desain chip meraih kesuksesan internasional, serupa dengan model perusahaan seperti Nvidia atau Qualcomm.
Sementara itu, konflik yang berlanjut di Iran dan menyebar ke wilayah lain di Timur Tengah mendorong investor menilai ulang prospek inflasi Amerika Serikat dan arah suku bunga Federal Reserve. Torsten Sløk dari Apollo Global Management memperkirakan bahwa jika harga minyak naik US$50 per barel, inflasi AS pada kuartal kedua 2026 bisa sekitar 1 poin persentase lebih tinggi dibandingkan perkiraan dasar.
Ketegangan juga tercermin pada arus logistik energi. Perusahaan riset pasar energi Kpler melaporkan pada 4 Maret bahwa lalu lintas kapal tanker minyak melalui Selat Hormuz turun 90% sejak AS dan Israel melancarkan operasi militer terhadap Iran pada akhir pekan sebelumnya. Pejabat militer Iran mengklaim telah sepenuhnya memblokir jalur tersebut, yang mengangkut sekitar 20% minyak mentah dunia. Namun, Kpler menyebut sebagian kapal masih mengambil risiko untuk melintas.
Gangguan jalur pelayaran turut mendorong biaya pengiriman minyak mentah dari AS ke Asia mencapai rekor tertinggi. Data Baltic Exchange di London menunjukkan bahwa per 4 Maret, biaya penyewaan kapal tanker super berkapasitas 2 juta barel dari Pantai Teluk AS ke China melampaui US$29 juta, level tertinggi yang pernah tercatat dan sekitar dua kali lipat dibandingkan dua minggu sebelumnya. Kenaikan biaya ini dinilai berpotensi menghentikan banyak transaksi perdagangan.
Di sektor teknologi, Nvidia memutuskan menghentikan produksi chip kecerdasan buatan H200 yang dirancang khusus untuk pasar Tiongkok. Keputusan ini diambil meskipun terdapat pelonggaran peraturan ekspor AS baru-baru ini, dan mengindikasikan perusahaan tidak lagi mengharapkan penjualan H200 yang signifikan di Tiongkok dalam waktu dekat.
Dampak konflik juga terasa pada transportasi udara. Perusahaan analisis data pasar Cirium Ltd. melaporkan pada 4 Maret bahwa jumlah penerbangan yang dibatalkan menuju titik transit di Timur Tengah telah melampaui 23.000 sejak pertempuran pecah. Angka itu lebih dari setengah dari sekitar 36.000 penerbangan terjadwal ke dan dari kawasan tersebut, dengan dampak pada sekitar 4,4 juta kursi.
Di pasar gas, penghentian sementara ekspor gas alam cair (LNG) Qatar pada pekan ini memicu lonjakan harga bahan bakar di Eropa dan Asia. Sejumlah analis menilai perusahaan energi besar Barat berpotensi menjadi penerima manfaat utama dari kenaikan harga tersebut. Perusahaan-perusahaan Eropa seperti Shell dan TotalEnergies, serta perusahaan AS seperti ExxonMobil dan Cheniere, disebut berada pada posisi untuk meraih keuntungan besar, bahkan jika Qatar segera melanjutkan pengiriman yang sempat terhenti.
Rangkaian perkembangan ini menunjukkan bagaimana konflik geopolitik dapat dengan cepat merembet ke pasar energi, logistik, kebijakan moneter, serta keputusan investasi dan industri, sekaligus menambah kompleksitas tantangan ekonomi global sepanjang 2026.

