Perkembangan di Timur Tengah kembali menjadi penentu utama pergerakan pasar dan kebijakan energi global pada 25 Maret 2026. Rencana diplomasi yang diusulkan Amerika Serikat kepada Iran memengaruhi harga minyak dan emas, sementara survei bisnis menunjukkan dampak konflik mulai terasa pada ekonomi besar. Di sisi lain, Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan kesiapan melepas cadangan tambahan, dan Filipina tercatat menerima pasokan minyak Rusia untuk pertama kalinya dalam lima tahun.
Pada 24 Maret, Presiden AS Donald Trump menyampaikan bahwa ia telah mengirimkan proposal perdamaian kepada Iran dan menyatakan optimisme bahwa konflik yang telah berlangsung hampir sebulan dapat diakhiri. Pernyataan itu muncul bersamaan dengan pengumuman dari Iran yang menyebut akan mengizinkan kapal tanker minyak “non-bermusuhan” melintasi Selat Hormuz, jalur strategis bagi perdagangan energi. Berbicara di Ruang Oval, Trump mengatakan AS sedang bernegosiasi dengan Iran, meskipun Iran belum mengonfirmasi adanya pembicaraan formal.
Sentimen pasar energi merespons cepat sinyal tersebut. Pada sesi pagi 25 Maret, harga minyak dunia turun tajam hampir 6% setelah proposal perdamaian AS-Iran mencuat. Informasi mengenai pelonggaran kontrol Iran di Selat Hormuz turut meredakan kekhawatiran pasokan, meningkatkan harapan pemulihan aliran energi dari kawasan Timur Tengah seiring kemungkinan meredanya konflik.
Di pasar logam mulia, harga emas dunia justru berbalik menguat. Pada sesi perdagangan pagi 25 Maret, emas naik lebih dari 2% dan diperdagangkan di atas US$4.500 per ons. Kenaikan ini terjadi di tengah pelemahan dolar AS dan penurunan harga minyak, yang dinilai membantu meredakan tekanan inflasi serta kekhawatiran terhadap suku bunga tinggi. Pasar juga menangkap sinyal positif dari perkembangan rencana perdamaian di Timur Tengah.
Sementara itu, dampak konflik terhadap aktivitas ekonomi mulai tercermin dalam data survei. Survei bisnis yang dirilis pada 24 Maret menunjukkan konflik di Timur Tengah telah mulai merugikan ekonomi utama di berbagai kawasan. Kenaikan harga energi dan meningkatnya ketidakstabilan disebut menghambat aktivitas ekonomi sekaligus mendorong ekspektasi inflasi lebih tinggi. Hasil awal survei manajer pembelian di AS, Eropa, dan Jepang disebut memberikan gambaran paling komprehensif sejauh ini mengenai dampak ekonomi dari konflik yang telah berjalan hampir empat minggu.
Di tingkat kebijakan, Direktur Pelaksana IEA Fatih Birol pada 25 Maret menyatakan lembaganya “siap untuk mengerahkan” cadangan minyak mentah tambahan “jika dan kapan diperlukan.” Pernyataan itu disampaikan setelah pertemuan dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi di Tokyo. Dalam pertemuan tersebut, Takaichi meminta IEA mempersiapkan rencana pelepasan cadangan tambahan apabila konflik di Timur Tengah berlangsung berkepanjangan.
Di Asia, Filipina dilaporkan menerima pengiriman minyak mentah Rusia pertama dalam lima tahun, seiring upaya mencari sumber alternatif di tengah kekhawatiran gangguan pasokan energi global. Sejumlah sumber yang mengutip data perusahaan analitik seperti LSEG, Kpler, dan OilX menyebut sebuah kapal mengangkut sekitar 100.000 ton minyak mentah ESPO Blend dari pelabuhan Kozmino, Rusia, menuju kilang minyak Petron di provinsi Bataan.
Rangkaian peristiwa ini menegaskan bagaimana perkembangan geopolitik, kebijakan cadangan strategis, dan diversifikasi pasokan terus membentuk arah pasar energi serta memengaruhi ekspektasi inflasi dan aktivitas ekonomi di berbagai negara.

