BERITA TERKINI
Singapura Pantau Risiko Blokade Selat Hormuz, Dampak Ekonomi Global Dinilai Bisa Meluas

Singapura Pantau Risiko Blokade Selat Hormuz, Dampak Ekonomi Global Dinilai Bisa Meluas

Potensi blokade berkepanjangan di Selat Hormuz dinilai dapat membawa konsekuensi serius bagi perekonomian global. Selain berisiko memicu lonjakan harga energi, gangguan pada jalur pelayaran strategis tersebut juga dikhawatirkan menimbulkan efek berantai terhadap pasokan pupuk, pangan, hingga industri berteknologi tinggi.

Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong mengatakan pemerintahnya terus memantau perkembangan konflik yang memengaruhi jalur perdagangan energi dunia itu. Dalam konferensi pers saat kunjungan ke Jepang, Wong menilai situasi masih dinamis dan belum ada kepastian kapan operasi militer yang terkait akan berakhir.

“Kami memantau situasi dengan cermat karena situasinya dinamis. Awalnya AS mengatakan bahwa operasi militer ini akan berakhir dalam beberapa minggu. Sekarang kita sudah memasuki minggu ketiga. Kami tidak tahu kapan operasi ini akan berhenti,” ujar Wong, Jumat (20/3/2026), dikutip dari tayangan di laman YouTube Channel News Asia.

Wong menekankan, perhatian tidak hanya tertuju pada operasi militer yang sedang berlangsung, melainkan juga pada kemungkinan berlanjutnya gangguan pelayaran di Selat Hormuz. “Namun, terlepas dari operasi militer, pertanyaan kuncinya adalah apakah Selat Hormuz akan terus diblokir dan berapa lama,” kata dia.

Ia memperingatkan, dampak ekonomi dari blokade yang berlangsung lama dapat sangat luas dan berpotensi mendorong perlambatan ekonomi global. Menurut Wong, sekalipun operasi militer dihentikan, penyumbatan Selat Hormuz yang berlanjut tetap dapat menimbulkan konsekuensi besar bagi ekonomi dunia.

Wong menilai fokus publik selama ini lebih banyak tertuju pada minyak dan gas. Namun, ia mengingatkan dampak gangguan pelayaran berpotensi merembet ke sektor lain, termasuk pasokan pupuk yang dapat memengaruhi rantai pasok pangan.

“Banyak perhatian tertuju pada minyak dan gas, tetapi dampaknya lebih luas dari itu karena pasokan pupuk, misalnya, dapat terpengaruh, dan kemudian akan berdampak pada pasokan pangan,” ujarnya.

Selain pupuk, Wong juga menyoroti potensi gangguan pada pasokan helium global yang melewati jalur tersebut. Ia menyebut sekitar 30 persen helium dunia masuk melalui Selat Hormuz. Komoditas itu digunakan dalam mesin MRI dan peralatan khusus di rumah sakit, serta dalam produksi semikonduktor.

“Atau ambil contoh lain seperti helium. Saya rasa 30 persen helium dunia masuk melalui Selat Hormuz, dan helium digunakan dalam mesin MRI, peralatan khusus di rumah sakit. Helium juga digunakan dalam produksi semikonduktor,” kata Wong.

Menurutnya, helium merupakan komoditas penting bagi berbagai sektor, mulai dari layanan kesehatan hingga industri semikonduktor. Karena itu, gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz dinilai berpotensi memicu efek berantai yang luas.

“Oleh karena itu, penyumbatan selat yang berkepanjangan akan memiliki implikasi signifikan bagi ekonomi global dan dapat menjerumuskan ekonomi global ke dalam kemerosotan, penurunan, atau bahkan resesi,” ujar Wong.

Di tengah ketidakpastian tersebut, Wong menyatakan pemerintah Singapura telah menyiapkan sejumlah langkah untuk meredam dampak terhadap perekonomian domestik. Ia mengatakan kebijakan yang telah diumumkan dalam Anggaran 2026 diharapkan segera dirasakan manfaatnya oleh masyarakat dan dunia usaha.

“Jadi, ini adalah hal-hal yang kami khawatirkan. Kami tidak tahu apakah itu akan terjadi, tetapi kami memantaunya dengan sangat cermat,” kata Wong.