Kebuntuan sikap BRICS dalam merespons konflik Iran memunculkan pertanyaan mengenai relevansi blok tersebut dalam menghadapi krisis geopolitik global. Sejak konflik dimulai, BRICS dilaporkan belum mampu menyepakati dua draf pernyataan, termasuk draf yang berisi kecaman terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel.
Iran juga sempat mengajukan draf khusus yang mendorong penghentian serangan. Namun, usulan itu ditolak oleh sejumlah anggota. Uni Emirat Arab disebut termasuk pihak yang menolak, dengan alasan Iran turut berperan sebagai agresor.
Peneliti dari International Institute for Strategic Studies, Irene Mia, menilai BRICS masih dapat mempertahankan relevansinya apabila menitikberatkan kerja sama yang pragmatis, seperti perdagangan dan pembiayaan, ketimbang membentuk diri sebagai aliansi geopolitik. Menurutnya, BRICS dibentuk sebagai alternatif forum negara berkembang terhadap dominasi Barat, tetapi tidak memiliki kerangka pertahanan kolektif seperti NATO. Perbedaan sistem politik dan kepentingan nasional dinilai menjadi tantangan utama untuk mencapai kesepakatan bersama.
Mia juga menyoroti bahwa kesulitan menyatukan posisi bukan hal baru bagi BRICS. Ia menilai pola serupa pernah terlihat pada sikap blok tersebut terhadap kasus Venezuela di masa lalu dan kembali muncul dalam konteks konflik Timur Tengah saat ini.
Ketidakmampuan BRICS merespons konflik dinilai dapat mengurangi kepercayaan pasar terhadap blok tersebut sebagai kekuatan penyeimbang global. Kondisi ini berpotensi memperbesar dominasi kebijakan Barat dalam menentukan arah pasar keuangan dan energi.
Sementara itu, konflik telah memicu volatilitas harga minyak dunia dan meningkatkan risiko inflasi di sejumlah negara berkembang. Dalam situasi ini, BRICS diperkirakan tetap berhati-hati dan menghindari posisi yang tegas, dengan fokus ke depan kemungkinan diarahkan pada isu ekonomi seperti stabilitas energi dan perdagangan.

