Pasar properti perkantoran di Asia Pasifik diproyeksikan memasuki fase baru pada 2026, dengan strategi yang lebih presisi dinilai mengungguli ekspansi berskala besar. Laporan Colliers Asia Pacific Office Market Insights edisi Februari 2026 mencatat aktivitas sewa ruang kantor meningkat 11% secara tahunan (year-on-year) menjadi 9,8 juta meter persegi sepanjang 2025, seiring pulihnya kepercayaan bisnis di India, Tiongkok Daratan, dan Jepang.
Di sisi pasokan, ruang kantor baru juga bertambah, naik 19%. Namun, Colliers mencatat persaingan kian ketat terutama di lokasi premium. Tingkat kekosongan di area utama dilaporkan menurun, mendorong perusahaan menjadi lebih selektif dalam menentukan kantor. Preferensi penyewa mengarah pada gedung berkualitas tinggi, terhubung dengan transportasi massal, serta memiliki aspek ramah lingkungan.
Managing Director Occupier Services Asia Pasifik Colliers, Mike Davis, menilai percakapan pasar telah bergeser. Menurutnya, perusahaan kini mengkalibrasi portofolio kantor dengan langkah yang lebih sedikit, tetapi lebih tepat sasaran. “Percakapan pasar sudah bergeser. Di 2026, perusahaan sukses adalah yang paham kebutuhan kantor mereka performa, ketahanan, dan nilai jangka panjang lalu bertindak cepat saat peluang muncul,” katanya, Selasa (10/3/2026).
Di Indonesia, Head of Office Services Colliers Indonesia, Bagus Adikusumo, menyoroti perkembangan di Jakarta. Ia menyebut sektor teknologi dan energi menjadi yang paling aktif mencari ruang kantor. Sepanjang 2025, perusahaan multinasional juga disebut semakin memilih gedung bersertifikat hijau yang berlokasi dekat stasiun MRT atau LRT.
Secara regional, aktivitas sewa masih didominasi pasar-pasar utama. India, Tiongkok Daratan, dan Jepang disebut menyumbang 90% aktivitas sewa di Asia Pasifik. Sementara itu, Filipina, Selandia Baru, dan Hong Kong mencatat pertumbuhan yang cepat meski dari basis yang lebih rendah.
Dari sisi investasi, Colliers melaporkan investasi institusional pada pasar kantor Asia Pasifik meningkat 21% menjadi USD 58,6 miliar pada 2025. Korea Selatan dan Jepang disebut menguasai lebih dari separuh total investasi tersebut, sementara India mencatat pertumbuhan investasi terkuat.
Managing Director Capital Markets & Investment Services Colliers Asia Pasifik, Theo Novak, menyatakan investor kini mengikuti arah perubahan preferensi penyewa. Menurutnya, fokus investor mengarah pada gedung berkualitas, lokasi strategis, dan aset yang dinilai siap menghadapi kebutuhan masa depan. Ia menegaskan properti perkantoran tidak lagi dipandang semata sebagai biaya, melainkan keunggulan kompetitif.
Ke depan, Colliers memperkirakan pasar perkantoran Asia Pasifik pada 2026 tetap kuat. Namun, laporan itu menekankan bahwa pelaku yang dinilai berpeluang unggul adalah mereka yang mampu mengambil keputusan secara lincah dan terukur.

