Serikat Pekerja Pelabuhan Indonesia Bersatu (SPPI Bersatu) mengimbau para pekerja pelabuhan di Indonesia meningkatkan kewaspadaan terhadap dinamika geopolitik global yang dinilai berpotensi memengaruhi stabilitas rantai pasok internasional dan aktivitas logistik nasional.
SPPI Bersatu menyoroti ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel di kawasan Timur Tengah, termasuk kemungkinan gangguan pada jalur pelayaran strategis di Selat Hormuz. Situasi tersebut memunculkan kekhawatiran terhadap kenaikan harga minyak dunia serta meningkatnya biaya operasional perusahaan pelayaran internasional.
Ketua Umum SPPI Bersatu Dodi Nurdiana mengatakan dampak konflik itu dapat dirasakan secara tidak langsung oleh operasional pelabuhan di Indonesia, terutama pada kegiatan bongkar muat di terminal yang melayani perdagangan internasional. “Ketegangan geopolitik di Timur Tengah berpotensi memicu kenaikan harga minyak global yang berdampak pada biaya operasional pelayaran. Kondisi ini dapat memengaruhi arus perdagangan internasional serta aktivitas pelabuhan yang melayani impor dan ekspor,” ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (13/3).
Menurut Dodi, sejumlah perusahaan pelayaran internasional disebut mulai menyesuaikan rute di kawasan Timur Tengah. Penyesuaian tersebut berpotensi memicu keterlambatan kedatangan kapal dan meningkatkan kepadatan di sejumlah pelabuhan internasional, termasuk pelabuhan yang dikelola PT Pelabuhan Indonesia (Pelindo).
“Jika jadwal pelayaran terganggu, maka potensi penumpukan kapal di pelabuhan juga dapat terjadi. Karena itu, efisiensi operasional pelabuhan menjadi faktor penting untuk menjaga kelancaran arus logistik dan mempertahankan daya saing ekonomi nasional,” kata Dodi.
Ia menambahkan, meski perdagangan domestik dinilai relatif stabil, dampak tidak langsung konflik global terhadap harga energi, inflasi, dan rantai pasok internasional tetap perlu diantisipasi. “Dampaknya mungkin tidak langsung, tetapi tetap harus diwaspadai. Gangguan pada rantai pasok global dapat memengaruhi lalu lintas kontainer serta efisiensi operasional pelabuhan jika tidak diantisipasi dengan baik,” ujarnya.
Dalam konteks itu, SPPI Bersatu menyerukan kepada pekerja di lingkungan Pelindo untuk menjaga profesionalisme dan memperkuat komitmen dalam memastikan kelancaran operasional pelabuhan. Para pekerja juga diminta tetap siaga menjelang Hari Raya Idulfitri, khususnya untuk mendukung kelancaran pelayanan arus mudik dan distribusi logistik nasional.
“Kami mengajak seluruh pekerja pelabuhan untuk tetap siaga dan bekerja secara profesional dalam menyukseskan pelayanan arus mudik Lebaran di berbagai pelabuhan di Indonesia. Kelancaran mobilitas masyarakat dan distribusi logistik nasional menjadi tanggung jawab bersama,” kata Dodi.
SPPI Bersatu turut menekankan pentingnya menjaga distribusi barang strategis, seperti kebutuhan pokok, bahan bakar minyak, dan komoditas penting lainnya di tengah perkembangan dinamika ekonomi global. Organisasi pekerja itu juga menyatakan dukungan terhadap program strategis pemerintah untuk memperkuat ketahanan logistik nasional, termasuk transformasi sektor kepelabuhanan, digitalisasi layanan, serta peningkatan efisiensi operasional guna mendorong produktivitas bongkar muat.
Selain itu, Dodi mengajak pengurus dan anggota serikat pekerja untuk mengawal kebijakan yang bertujuan memperkuat kinerja perusahaan sekaligus meningkatkan kesejahteraan pekerja. Di tengah tantangan global, SPPI Bersatu juga mengimbau pekerja pelabuhan agar tidak mudah terprovokasi isu-isu negatif yang berpotensi mengganggu stabilitas industri kepelabuhanan nasional. “Solidaritas, profesionalisme, dan komitmen menjaga marwah dunia kepelabuhanan Indonesia harus tetap menjadi pegangan kita bersama dalam menghadapi berbagai tantangan global,” tutupnya.

