Konflik yang kian memanas antara Iran dan Israel memicu kekhawatiran baru di pasar energi global setelah kedua pihak dilaporkan mulai melancarkan serangan terhadap fasilitas energi masing-masing pihak dan sekutunya. Perkembangan ini menimbulkan risiko terganggunya pasokan energi dari Timur Tengah, kawasan yang selama ini menjadi salah satu penopang utama suplai minyak dan gas dunia.
MST Financial Energy Analyst, Saul Kavonic, menilai eskalasi tersebut sebagai skenario terburuk yang selama ini dikhawatirkan industri energi. Ia mengatakan dunia bergerak menuju skenario krisis gas terburuk, dengan dampak yang berpotensi bertahan lama bahkan setelah perang berakhir.
Dalam perkembangan terbaru, Iran disebut menyerang fasilitas gas alam cair (LNG) di Ras Laffan Industrial City, Qatar, yang dikenal sebagai fasilitas LNG terbesar di dunia. Serangan itu dilaporkan mendorong lonjakan tajam harga energi dan disebut sebagai titik balik dalam konflik yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
Qatar Energy melaporkan kerusakan akibat serangan tersebut diperkirakan membutuhkan waktu hingga lima tahun untuk diperbaiki. Perusahaan itu juga menyebut sekitar 17% kapasitas ekspor gas berpotensi hilang selama tiga hingga lima tahun ke depan. Qatar Energy mempertimbangkan untuk menyatakan force majeure atas kontrak jangka panjang ke sejumlah negara, termasuk Italia, Belgia, Korea Selatan, dan China.
Serangan Iran juga dilaporkan meluas ke infrastruktur energi di negara lain di kawasan. Teheran disebut menyasar kilang minyak dan fasilitas gas di Arab Saudi, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.
Perluasan target serangan ini dinilai menunjukkan konflik telah melampaui operasi militer dan berubah menjadi ancaman langsung terhadap sistem energi global. Kondisi tersebut turut meningkatkan kekhawatiran akan stagflasi, yakni kombinasi inflasi tinggi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi.
Pasar global disebut semakin gelisah karena dampak konflik tidak lagi terbatas pada jalur distribusi seperti Selat Hormuz, tetapi mulai menyentuh infrastruktur inti produksi energi dunia. Situasi ini berpotensi berdampak luas, termasuk bagi Indonesia, mengingat ketergantungan Tanah Air terhadap impor energi, terutama minyak dan gas.

