BERITA TERKINI
Serangan AS-Israel ke Iran Picu Krisis Energi, Dampak Ekonomi Global Membesar

Serangan AS-Israel ke Iran Picu Krisis Energi, Dampak Ekonomi Global Membesar

WASHINGTON DC — Konflik Timur Tengah yang dipicu serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada 28 Februari dinilai tidak sebanding dengan dampak ekonomi yang kini dirasakan dunia. Di tengah klaim keberhasilan militer dari Washington, perekonomian global justru menghadapi tekanan akibat krisis energi yang memburuk.

AS menyatakan lebih dari 6.000 target di Iran telah dihancurkan. Dalam klaim tersebut juga disebutkan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei gugur, serta kemampuan nuklir Teheran telah dilumpuhkan.

Namun, dampak lanjutan konflik terlihat pada lonjakan harga minyak setelah Iran menutup Selat Hormuz. Harga minyak acuan Brent dilaporkan mencapai 100 dollar AS per barel. Negara-negara anggota Badan Energi Internasional, termasuk AS, kemudian melepaskan 400 juta barel cadangan minyak.

Situasi itu segera memukul perekonomian global. Harga bahan bakar minyak (BBM) terus naik, sementara AS disebut berupaya membangun koalisi internasional untuk mengamankan Selat Hormuz.

Pakar Iran sekaligus Wakil Presiden Kebijakan Luar Negeri di Brookings Institution, Suzanne Maloney, menyoroti adanya jarak antara hasil operasi militer dan konsekuensi ekonomi yang meluas. “Ada ketimpangan yang mencolok antara pencapaian operasional AS dan Israel dengan dampak buruk bagi ekonomi global serta kepentingan keamanan nasional AS yang lebih luas,” ujarnya.

Maloney juga memperingatkan bahwa klaim kemenangan atas hancurnya fasilitas militer dan nuklir Iran berpotensi kehilangan makna bagi warga AS jika berujung pada resesi. “Jika ini harus dibayar dengan resesi besar, itu tidak akan berarti banyak bagi Partai Republik di pemilu sela,” tambahnya.

Tekanan paling nyata terlihat pada harga BBM di AS. Data dari AAA menunjukkan, rata-rata harga bensin pada Minggu (15/3/2026) mencapai 3,70 dollar AS per galon, naik 26 persen dibandingkan sebulan sebelumnya. Kenaikan lebih tajam terjadi pada diesel yang melonjak 36 persen, dari 3,66 dollar AS menjadi 4,97 dollar AS per galon.