BERITA TERKINI
Sentimen Suku Bunga The Fed Membayangi Valas Utama, Ini Proyeksi Pergerakan hingga Akhir 2025

Sentimen Suku Bunga The Fed Membayangi Valas Utama, Ini Proyeksi Pergerakan hingga Akhir 2025

Kinerja sejumlah valuta asing (valas) utama bergerak beragam dan masih dibayangi sentimen suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS), The Federal Reserve (The Fed). Arah kebijakan moneter AS dinilai menjadi salah satu penentu utama pergerakan pasangan mata uang global hingga akhir tahun.

Merujuk data Trading Economics pada Senin (3/11) pukul 19.00 WIB, pasangan EUR/USD berada di level 1,1516 atau naik 11,18% secara year to date (ytd). GBP/USD tercatat 1,3127 atau naik 4,88% ytd, dan AUD/USD di 0,6548 atau naik 5,79% ytd. Sementara itu, USD/JPY berada di 154,16 atau terkoreksi 2,03% ytd, sedangkan USD/CHF di 0,8071 atau terkoreksi 11,05% ytd.

Research and Development ICDX, Taufan Dimas Hareva, menilai kombinasi kebijakan moneter AS yang masih ketat, tekanan fiskal Inggris, serta prospek ekonomi domestik yang lemah memperkuat peluang pelemahan GBP/USD dalam jangka pendek. Meski pemulihan masih mungkin terjadi apabila ada kejutan positif dari kebijakan Bank of England atau perbaikan outlook fiskal, ia menilai secara fundamental tren saat ini masih mendukung dominasi dolar AS. “Fokus pasar dalam waktu dekat akan tertuju pada penyampaian anggaran musim gugur serta keputusan kebijakan Bank of England yang akan menjadi penentu arah berikutnya bagi Poundsterling (GBP),” ujar Taufan, Senin (3/11/2025).

Terkait EUR/USD, Taufan menyebut euro cenderung melemah dalam jangka pendek terhadap dolar AS karena perbedaan arah kebijakan moneter antara Bank Sentral Eropa (ECB) dan The Fed. Dolar AS masih mendapat dukungan dari pandangan bahwa The Fed akan menahan suku bunga lebih lama, meski sudah menurunkan suku bunga acuan dua kali tahun ini. Pernyataan Ketua The Fed Jerome Powell yang menegaskan penurunan suku bunga berikutnya belum tentu terjadi membuat pasar menilai kebijakan moneter AS masih relatif ketat, sehingga menopang kepercayaan investor pada ekonomi AS yang dinilai tetap solid di tengah perlambatan global.

Di sisi lain, ECB dinilai tetap berhati-hati menyesuaikan kebijakan moneter karena inflasi kawasan euro mendekati target 2%. Sejumlah pejabat ECB menekankan perlunya kebijakan fleksibel untuk merespons ketidakpastian global dan tekanan pasar keuangan. Namun, pemulihan ekonomi zona euro yang lambat, terutama di sektor industri dan konsumsi rumah tangga, membatasi ruang penguatan euro. “Ketimpangan arah kebijakan antara AS dan Eropa ini membuat sentimen terhadap euro masih tertekan dalam waktu dekat,” kata Taufan.

Dari sisi AUD/USD, Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, mengatakan pergerakan dolar Australia cenderung sensitif terhadap sentimen risiko global dan harga komoditas, serta dipengaruhi prospek pertumbuhan global terutama dari China. Penguatan dolar AS secara luas dapat menekan AUD/USD, meski perbaikan sentimen risiko global dapat memberi dukungan sesekali. Ia juga menyebut koreksi komoditas logam mulia bisa menambah tekanan bagi dolar Australia.

Untuk USD/JPY, Nanang menilai pasangan ini dipengaruhi divergensi kebijakan moneter antara The Fed dan Bank of Japan (BoJ). BoJ saat ini menetapkan suku bunga 0,50% dan, menurut Nanang, kepemimpinan PM Sanae Takaichi dengan kebijakan yang longgar dapat menekan yen. Sementara itu, The Fed cenderung menahan suku bunga tinggi atau memangkasnya secara bertahap. “Perbedaan suku bunga yang besar membuat carry trade menguntungkan, mendukung penguatan USD terhadap JPY,” ucap Nanang.

Sementara untuk USD/CHF, Nanang menilai prospek kebijakan The Fed yang hati-hati dan peran franc Swiss sebagai mata uang safe-haven menjadi faktor utama. Ia memperkirakan penguatan dolar AS secara keseluruhan dapat menjaga pasangan ini dalam tren naik atau setidaknya stabil di level yang lebih tinggi hingga awal tahun depan.

Menatap akhir 2025, Taufan memperkirakan pergerakan EUR/USD, GBP/USD, AUD/USD, USD/JPY, dan USD/CHF masih sangat ditentukan arah kebijakan moneter global, terutama The Fed dan bank sentral utama lainnya. Ia menilai dolar AS mulai menunjukkan tanda kehilangan momentum seiring pasar memperhitungkan potensi penurunan suku bunga pada tahun depan. Namun, kekuatan dolar dinilai belum sepenuhnya berakhir karena data ekonomi AS masih relatif solid. Karena itu, ia melihat kecenderungannya lebih berupa stabilisasi atau pelemahan bertahap, bukan pembalikan tajam.

Untuk proyeksi kisaran hingga akhir 2025, Taufan menyebut EUR/USD berpotensi menguat terbatas ke 1,18–1,20 apabila prospek ekonomi Eropa membaik dan ECB mulai menurunkan suku bunga secara bertahap. Namun jika inflasi AS bertahan tinggi dan The Fed mempertahankan kebijakan ketat lebih lama, euro berpotensi tertahan di 1,13–1,16.

Poundsterling diproyeksikan bergerak di kisaran 1,32–1,35 per dolar AS, dengan sensitivitas tinggi terhadap arah kebijakan Bank of England dan data inflasi domestik, mengingat ekonomi Inggris dinilai masih lemah sementara inflasi belum sepenuhnya turun.

Adapun AUD/USD diperkirakan sangat dipengaruhi harga komoditas dan aktivitas ekonomi China. Jika permintaan dari China pulih, dolar Australia berpeluang menguat ke 0,67–0,70, tetapi dapat melemah kembali ke sekitar 0,65 apabila sentimen global memburuk atau harga komoditas menurun.

Untuk yen Jepang, Taufan menilai USD/JPY masih berpotensi bertahan di kisaran 150–155 per dolar selama BoJ mempertahankan kebijakan moneter longgar. Meski begitu, intervensi otoritas Jepang atau perubahan arah kebijakan BoJ dapat memicu koreksi cepat sewaktu-waktu.

Sementara franc Swiss diperkirakan cenderung stabil dengan USD/CHF di sekitar 0,85–0,90 per dolar, dengan peluang penguatan CHF bila ketegangan geopolitik meningkat dan investor kembali mencari aset aman.

Nanang juga menyampaikan proyeksi untuk awal tahun depan. Ia memperkirakan EUR/USD berpotensi berada di kisaran 1,1200–1,1500, GBP/USD di 1,2700–1,3000, AUD/USD di 0,6700–0,6300, USD/JPY di 155,00–158,00, serta USD/CHF di 0,8300–0,8700.