BERITA TERKINI
Sektor Usaha Mikro Dinilai Lebih Tahan di Tengah Gejolak Konflik Timur Tengah

Sektor Usaha Mikro Dinilai Lebih Tahan di Tengah Gejolak Konflik Timur Tengah

JAKARTA — Ketegangan geopolitik di Timur Tengah kerap menjadi sorotan karena dampaknya dapat meluas ke perekonomian global. Konflik yang melibatkan negara besar seperti Amerika Serikat serta negara produsen energi seperti Iran dinilai hampir selalu memicu ketidakpastian ekonomi internasional.

Salah satu dampak yang kerap muncul adalah kenaikan harga minyak dunia. Kenaikan harga energi berpotensi mendorong inflasi global, menekan nilai tukar berbagai mata uang, dan membuat bank sentral di sejumlah negara mengambil kebijakan moneter yang lebih ketat, termasuk menaikkan suku bunga.

Bagi negara berkembang seperti Indonesia, situasi tersebut dapat menjadi tantangan. Saat harga energi meningkat dan inflasi menguat, daya beli masyarakat berisiko tertekan. Di sisi lain, sektor perbankan juga menghadapi potensi peningkatan risiko kredit karena kenaikan suku bunga dapat memengaruhi kemampuan debitur memenuhi kewajiban.

Meski demikian, pengalaman dari berbagai krisis menunjukkan tidak semua sektor terdampak secara sama. Dalam catatan praktik perbankan nasional, usaha mikro yang bergerak di bidang kebutuhan dasar masyarakat kerap menunjukkan ketahanan lebih baik dibanding sektor usaha besar yang sangat bergantung pada dinamika ekonomi global.

Dalam beberapa dekade terakhir, dunia mengalami krisis dengan karakter beragam. Pada awal 1990-an, Perang Teluk memicu lonjakan harga minyak yang menekan inflasi di berbagai negara. Indonesia kemudian menghadapi krisis yang lebih berat pada 1997–1998 saat krisis keuangan Asia menyebabkan depresiasi rupiah, lonjakan suku bunga, serta kesulitan likuiditas yang melanda banyak perusahaan besar dan menekan perbankan melalui meningkatnya kredit bermasalah.

Krisis kembali terjadi pada 2020 ketika pandemi COVID-19 menghentikan aktivitas ekonomi global, mengganggu rantai pasok, dan menurunkan permintaan di banyak sektor. Namun dari rangkaian pengalaman itu, muncul pola yang sama: usaha mikro terkait kebutuhan dasar cenderung lebih mampu bertahan.

Ketahanan sektor mikro antara lain ditopang oleh karakter usahanya. Banyak usaha mikro bergerak di sektor kebutuhan primer seperti pangan, bahan pokok, dan perdagangan kecil yang melayani konsumsi harian. Permintaan terhadap kebutuhan dasar dinilai relatif stabil karena masyarakat tetap membutuhkan barang-barang tersebut meski ekonomi sedang tertekan.

Selain itu, skala usaha yang kecil membuat pelaku usaha mikro lebih fleksibel menyesuaikan diri dengan perubahan pasar. Struktur biaya yang lebih sederhana memungkinkan penyesuaian harga dilakukan bertahap tanpa tekanan biaya yang terlalu besar.

Dari sisi perbankan, usaha mikro juga kerap memiliki arus kas harian yang relatif stabil, terutama pada aktivitas perdagangan kecil dan usaha berbasis pangan. Kondisi ini dinilai membantu menjaga kemampuan pembayaran kewajiban kredit.

Dalam konteks ketidakpastian global, penguatan manajemen risiko menjadi perhatian bagi perbankan. Salah satu aspek penting adalah memilih sektor pembiayaan yang memiliki ketahanan ekonomi lebih baik, terutama ketika suku bunga berpotensi meningkat dan tekanan inflasi menguat.

Pembiayaan kepada usaha mikro di bidang pangan, perdagangan kebutuhan pokok, serta usaha kecil yang melayani kebutuhan harian masyarakat disebut dapat menjadi strategi mitigasi risiko. Praktik perbankan menunjukkan bahwa sekalipun terjadi kenaikan harga barang atau biaya operasional, usaha terkait kebutuhan dasar masih memiliki ruang menyesuaikan harga tanpa kehilangan pasar secara signifikan.

Hal ini dipandang berbeda dengan sektor usaha besar yang bergantung pada permintaan global atau memiliki struktur biaya tinggi. Ketika perlambatan ekonomi terjadi atau suku bunga naik, sektor tersebut kerap menghadapi tekanan lebih besar.

Perbankan juga dinilai perlu menjaga diversifikasi portofolio kredit. Ketergantungan yang terlalu besar pada satu sektor dapat meningkatkan risiko ketika sektor tersebut mengalami tekanan. Dengan memperkuat pembiayaan pada sektor mikro dan sektor riil berbasis kebutuhan domestik, portofolio kredit dapat menjadi lebih seimbang.

Selain perdagangan mikro, sektor pertanian disebut memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional. Produksi pangan seperti padi, jagung, sayuran, dan komoditas hortikultura merupakan kebutuhan utama masyarakat. Dalam situasi inflasi pangan global, harga komoditas pertanian dapat meningkat dan membuka peluang bagi petani serta pelaku usaha agribisnis.

Indonesia sebagai negara agraris dinilai memiliki potensi memperkuat sektor pertanian sebagai penyangga ekonomi. Bagi perbankan, pembiayaan ke sektor pertanian yang memiliki pasar domestik kuat dapat menjadi bagian dari strategi pengelolaan risiko sekaligus mendukung ketahanan pangan nasional.

Di tengah dinamika global, menjaga optimisme pelaku usaha mikro juga dianggap penting. Usaha mikro dan UMKM disebut menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia, dengan jumlah yang mencapai puluhan juta dan menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Pengalaman krisis menunjukkan usaha kecil kerap memiliki daya tahan karena dekat dengan kebutuhan riil masyarakat.

Pelaku usaha mikro di bidang pangan, perdagangan kebutuhan pokok, dan usaha kecil berbasis komunitas dinilai masih memiliki peluang bertahan bahkan berkembang selama aktivitas sehari-hari masyarakat tetap berjalan dan kebutuhan dasar tetap dipenuhi.

Secara keseluruhan, konflik geopolitik di Timur Tengah berpotensi memicu gejolak ekonomi melalui kenaikan harga energi, inflasi, dan perubahan kebijakan suku bunga. Namun, sektor usaha mikro yang terkait kebutuhan dasar serta sektor pertanian dinilai memiliki ketahanan relatif lebih kuat. Bagi perbankan, penguatan pembiayaan pada sektor-sektor tersebut dapat menjadi strategi untuk menjaga kualitas portofolio kredit dan mengelola risiko di tengah ketidakpastian global.