Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Antonio Guterres menyerukan kepada Israel dan Amerika Serikat untuk segera menghentikan operasi militer terhadap Iran. Ia memperingatkan eskalasi konflik berisiko lepas kendali dan memicu dampak luas, baik bagi warga sipil maupun perekonomian global.
Pernyataan itu disampaikan Guterres kepada wartawan di sela-sela Konferensi Tingkat Tinggi para pemimpin Uni Eropa. Ia menekankan pentingnya mengedepankan hukum dan diplomasi dibandingkan kekuatan militer.
“Sudah saatnya supremasi hukum mengalahkan hukum kekuatan. Sudah saatnya diplomasi mengalahkan perang,” ujar Guterres.
Selain menyerukan penghentian operasi militer, Guterres juga mendesak Iran membuka kembali Selat Hormuz yang terdampak konflik. Menurutnya, penutupan jalur vital tersebut akan membawa konsekuensi serius bagi masyarakat global yang tidak terlibat dalam konflik.
“Penutupan berkepanjangan Selat Hormuz menyebabkan penderitaan besar bagi banyak orang di seluruh dunia yang tidak ada kaitannya dengan konflik ini,” tegasnya.
Di sisi lain, Guterres meminta Iran menghentikan serangan balasan terhadap negara-negara tetangga di kawasan Teluk, yang ia nilai bukan pihak langsung dalam konflik.
Ketegangan meningkat sejak 28 Februari, ketika Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran, termasuk di ibu kota Teheran. Serangan tersebut dilaporkan menyebabkan kerusakan dan korban sipil.
Iran kemudian merespons dengan melancarkan serangan ke wilayah Israel serta fasilitas militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Eskalasi ini berdampak langsung pada aktivitas di Selat Hormuz, jalur utama distribusi minyak dan gas alam cair dari kawasan Teluk Persia ke pasar global.
Situasi kian memanas setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, dalam pidatonya pada 12 Maret menyatakan Selat Hormuz harus tetap ditutup sebagai bentuk tekanan terhadap Amerika Serikat dan Israel.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran internasional mengingat peran strategis Selat Hormuz dalam rantai pasok energi global. Gangguan berkepanjangan di kawasan itu dinilai berpotensi memperburuk krisis energi dan menekan perekonomian dunia.

