Mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyampaikan sejumlah pesan strategis terkait arah kebijakan Indonesia di tengah dinamika global yang kian kompleks. Dalam sebuah forum diskusi, SBY menekankan pentingnya kesiapan nasional di berbagai sektor—mulai dari ekonomi, pertahanan, hingga diplomasi—agar Indonesia tidak terlambat mengantisipasi potensi krisis dunia.
SBY menilai penguatan ketahanan dalam negeri tetap menjadi prioritas, namun ia mengingatkan pemerintah agar tidak bersikap naif terhadap perubahan geopolitik yang berlangsung cepat. Menurutnya, Indonesia tidak boleh terlalu percaya diri ataupun apatis terhadap konflik internasional karena dunia yang saling terhubung membuat krisis global berpotensi berdampak langsung pada stabilitas nasional.
“Fokus dalam negeri itu penting, meningkatkan daya tangkal, memperkuat pertahanan, ketahanan energi, dan ekonomi. Tapi jangan berpikir Indonesia tidak akan tersentuh,” ujar SBY.
Navigasi dunia multipolar
SBY menjelaskan bahwa tatanan dunia saat ini tidak lagi berada dalam satu kutub kekuatan. Setelah era Perang Dingin dan dominasi Amerika Serikat, ia melihat munculnya realitas multipolar dengan berbagai pusat kekuatan baru. SBY juga menyebut pernah berdiskusi dengan pemikir politik global Francis Fukuyama, yang dikenal melalui teori kemenangan liberalisme pasca runtuhnya komunisme, namun menurutnya perkembangan dunia menunjukkan prediksi tersebut tidak sepenuhnya tepat.
Dalam tatanan multipolar, SBY menyebut Amerika Serikat, Tiongkok, Rusia, Uni Eropa, hingga negara-negara BRICS sebagai kekuatan yang ikut membentuk dinamika global. Ia menilai Indonesia perlu menavigasi kepentingan nasional secara cermat dengan memahami posisi, sumber daya, serta batas kemampuan nasional.
“Yang utama adalah memahami posisi kita, mengetahui sumber daya yang dimiliki, serta batas kemampuan nasional,” katanya.
SBY menegaskan diplomasi bebas aktif tetap relevan, namun tidak boleh dimaknai sebagai sikap pasif atau menjauh dari perkembangan internasional.
Target pertumbuhan ekonomi 7–8 persen
SBY juga menyinggung target pertumbuhan ekonomi tinggi yang dicanangkan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, target pertumbuhan 7 hingga 8 persen bukan hal keliru selama disertai kerja keras dan kebijakan yang tepat sasaran.
Ia mengacu pada pengalaman pemerintahannya yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi hingga sekitar enam persen, sembari menurunkan kemiskinan dan pengangguran. SBY menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan berdampak pada penciptaan lapangan kerja, penurunan kemiskinan, dan peningkatan pendapatan per kapita.
“Kalau ekonomi tumbuh tinggi, maka lapangan kerja tercipta, kemiskinan turun, dan pendapatan per kapita meningkat. Itu hukum ekonomi,” ujarnya.
SBY menyebut pendapatan per kapita Indonesia pada masa pemerintahannya meningkat dari sekitar 1.100 dolar AS pada 2004 menjadi lebih dari 3.700 dolar AS pada 2014. Ia mengatakan data tersebut bersumber dari lembaga internasional seperti International Monetary Fund (IMF) dan World Bank.
SBY berharap tren pertumbuhan dapat kembali dijaga agar Indonesia mampu keluar dari jebakan negara berpendapatan menengah atau middle income trap. Ia juga menyinggung bahwa pada masa pemerintahan Presiden Joko Widodo, tantangan pandemi Covid-19 membuat momentum ekonomi sempat terganggu.
Ancaman modern dan hybrid warfare
Di luar aspek ekonomi, SBY menaruh perhatian pada sektor pertahanan. Ia menilai ancaman modern tidak lagi terbatas pada perang konvensional. Menurutnya, hybrid warfare, kecerdasan buatan (AI), serangan siber, hingga perkembangan teknologi udara merupakan tantangan nyata yang perlu diantisipasi sejak dini.
SBY mencontohkan kemampuan serangan udara modern yang dapat melumpuhkan kota-kota strategis dalam waktu singkat. Karena itu, ia menilai TNI dan institusi keamanan nasional harus siap menghadapi ancaman tradisional maupun nontradisional secara bersamaan.
“Tidak boleh ada single approach. Semua kemungkinan ancaman harus diantisipasi,” tegasnya.
Diplomasi dan penguatan SDM
Dalam kebijakan luar negeri, SBY kembali menekankan konsep zero enemy thousand friends. Ia menyebut diplomasi bebas aktif berarti Indonesia bebas menentukan sikap sekaligus aktif membangun kerja sama. Menurutnya, kerja sama internasional tetap penting, termasuk dalam forum global seperti G20, karena keputusan negara besar dapat berdampak pada negara lain meski tidak terlibat langsung dalam konflik.
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan dan teknologi maju, SBY juga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia, riset, dan inovasi teknologi sebagai bagian dari kesiapan Indonesia menghadapi perubahan global.

