BERITA TERKINI
SBY Minta Pemerintah Bertindak Cepat dan Tepat Hadapi Gejolak Harga Energi Global

SBY Minta Pemerintah Bertindak Cepat dan Tepat Hadapi Gejolak Harga Energi Global

Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menyatakan terus mencermati dinamika pasar global, terutama fluktuasi harga minyak, gas, dan bahan bakar minyak (BBM) yang belakangan dinilai semakin tidak menentu.

SBY menilai, meski harga energi dunia masih bergerak fluktuatif, dampak negatifnya telah dirasakan banyak negara, termasuk Indonesia. Ia menyebut sejumlah negara, termasuk di kawasan Asia, sudah mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan perekonomian masing-masing.

“Sejumlah negara di dunia, termasuk di kawasan Asia, telah mengambil langkah konkret untuk menyelamatkan perekonomian mereka,” kata SBY melalui akun X resminya, Jumat (27/3/2026).

Ia mencontohkan kebijakan yang ditempuh Filipina dan Korea Selatan yang disampaikan para presidennya pada 25 Maret 2026. Menurut SBY, langkah yang diambil beragam, namun dinilainya rasional.

Meski demikian, SBY mengingatkan agar Indonesia tidak panik menghadapi situasi tersebut. Ia menekankan pentingnya ketepatan dan kecepatan dalam pengambilan kebijakan.

“Untuk Indonesia, kita tak perlu panik. Tetapi langkah-langkah kita tidak boleh terlambat dan tidak tepat,” tegasnya.

SBY kemudian mengulas pengalamannya saat memimpin Indonesia ketika terjadi lonjakan harga minyak dunia pada periode 2004–2005, 2008, dan 2013. Ia menyebut kenaikan harga minyak saat itu memberi tekanan besar terhadap perekonomian nasional, termasuk pada kondisi fiskal, defisit APBN, dan inflasi, yang dampaknya dirasakan kuat oleh masyarakat kurang mampu.

“Harga minyak yang meroket saat itu sangat menekan ekonomi kita. Fiskal terganggu, defisit APBN melebar, inflasi meningkat, dan dampaknya sangat dirasakan oleh masyarakat kurang mampu,” ujarnya.

Dalam menghadapi tekanan tersebut, SBY mengatakan pemerintah saat itu menerapkan kombinasi kebijakan berupa penambahan subsidi dan penyesuaian harga BBM, disertai kampanye penghematan energi secara masif. Ia mengakui kebijakan tersebut tidak mudah dan memicu pro-kontra, termasuk dinamika di parlemen serta aksi demonstrasi di berbagai daerah.

“Namun pada akhirnya ekonomi kita selamat, dan masyarakat kurang mampu dapat kita lindungi melalui program bantuan langsung tunai (BLT),” ungkapnya.

SBY juga menyampaikan bahwa ia memantau langkah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya telah menyiapkan sejumlah kebijakan strategis. Ia menyatakan dukungan terhadap upaya penghematan energi untuk menekan defisit anggaran negara.

“Saya melihat Pemerintah telah mempersiapkan langkah-langkah yang diperlukan. Saya mendukung gerakan penghematan energi untuk mengurangi defisit anggaran,” katanya.

Menurut SBY, untuk menjaga keberlanjutan APBN 2026 dan stabilitas ekonomi nasional, pemerintah memiliki sejumlah opsi kebijakan yang dapat ditempuh. Ia menekankan tujuan utama adalah menjaga keselamatan ekonomi, mempertahankan pertumbuhan, mengendalikan inflasi, serta mencegah terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran.

“Yang penting ekonomi kita selamat. Pertumbuhan tetap terjaga, inflasi terkendali, dan PHK besar-besaran bisa dicegah,” sebutnya.

Di akhir pernyataannya, SBY mengingatkan agar perlindungan terhadap masyarakat kurang mampu tetap menjadi prioritas di tengah tekanan ekonomi global. “Yang sangat penting adalah tetap terlindunginya saudara-saudara kita yang kurang mampu, karena mereka yang paling merasakan dampaknya,” tutupnya.